Saturday, 24 September 2016

Bahagia itu apa?

Pada suatu titik dalam perjalanan kehidupan, saya mulai menyadari bahwa saat di telepon, orang tua saya cenderung menanyakan hal yang sama, seperti ini:
Pak Pur: “Halo ndhuk, kamu baik-baik to?”
Bu Susi: “Gimana? Happy apa enggak?” (dan kadang-kadang “Ada kecengan nggak?” tapi jarang :P)

Belakangan, setelah saya membaca bahwa “should and must” merupakan salah satu bentuk distorsi kognitif, saya jadi sangat bersyukur karena saya dibesarkan oleh orang tua yang relatif tidak terdistorsi kognisinya. Orang tua saya –despite not articulating it clearly- sepertinya menyadari bahwa hidup ini yang penting happy, dan kalaupun kadang tidak happy, paling tidak kita bisa tetap baik-baik saja.

Mungkin kesannya jadi seperti tidak ambisius dan nggak niat hidup saat kita tidak mengatakan “harus” dan mentarget diri sendiri untuk mencapai ini itu, tapi… kalaupun kita mau hidup secara ambisius, the ultimate life-goal-nya sebenarnya apa? Berkali-kali saya menanyakan hal ini ke diri saya sendiri, dan jawabannya tetap sama: my life goal is to be happy. Sebagai orang yang memang cenderung kompetitif, tentu saja sense of accomplishment yang saya rasakan saat bisa mencapai sesuatu setelah mengharuskan diri saya untuk melakukan ini itu, merupakan salah satu sumber kebahagiaan terbesar saya. Meskipun begitu, pada satu titik saya merasa bahwa hal-hal yang saya lakukan untuk mendapatkan sense of accomplishment ini sepertinya jadi agak ‘kebablasan’ dan malah cenderung mekanistis. Saya jadi tidak menikmati proses dan terlalu terfokus pada hal-hal yang jadi ‘tujuan akhir’; dan saat akhirnya saya benar-benar sampai di tujuan akhir, saya nangis. Karena saya hanya ingat bahwa saya mencapai sesuatu, tapi tidak bisa benar-benar ingat apa saja yang sudah saya lakukan untuk mencapainya. Yang saya ingat untuk bisa disyukuri hanya pencapaiannya, tapi saya ‘hilang ingatan’ tentang banyak hal di perjalanan yang mungkin sebenarnya bisa disyukuri juga. Jadi memang saya mencapai sesuatu, tapi saya tetap kehilangan banyak hal… sehingga pencapaian saya jadi pencapaian yang (terasa) kosong. Saya tidak bahagia, sehingga tujuan hidup saya… tidak tercapai. Saya merasa gagal.

Meskipun begitu, karena toh saya masih hidup meski gagal, (saya anggap) itu berarti bahwa saya masih punya kesempatan untuk menjadi berhasil; untuk mencapai the ultimate life goal: to be happy. Karena sense of accomplishment tampaknya tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, otomatis saya jadi perlu mencari sumber kebahagiaan lain. Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa ada setidaknya dua hal yang ternyata bisa membuat saya bahagia: menerima dan memaafkan. Tentu saja proses menerima dan memaafkan itu juga bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah,  tapi dibandingkan dengan lari sana-sini untuk mencapai target ini itu, proses menerima dan memaafkan ternyata jauh “affordable” dan hemat energi, karena saya tinggal… diam dan mengawasi.

Dengan diam, saya lebih sedikit bereaksi secara impulsif terhadap orang lain atau apapun yang terjadi di sekitar saya, yang akhirnya memicu reaksi balik ke saya yang lebih sedikit, sehingga lebih sedikit pula yang perlu saya tanggapi. Awalnya hal ini memang menakutkan karena saat orang tidak bereaksi terhadap saya, akan muncul perasaan bahwa seolah saya ini dianggap tidak ada. Tapi kemudian saya ingat lagi, bahwa saat saya dianggap tidak ada, itu artinya saya lebih bebas mau ke mana saja karena tidak ada tanggungan karena toh saya tidak dibutuhkan, jadi situasi ini saya biarkan, dan ternyata… tidak apa-apa. Saat hidup saya ‘sekedar’ tidak apa-apa, ternyata saya justru lebih tenang. Saat saya tenang, saya bahagia, jadi.. tercapai dong the ultimate life goal to be happy-nya.. Hmmm nggak nyangka..

Tentu saja saya tidak percaya begitu saja bahwa ‘diam’ itu bisa berujung pada bahagia karena ya itu tadi: masa nggak ambisius dan nerima-nerima aja gitu bikin bahagia sih? Di mana accomplishment-nya? Maka saya pun mencoba melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya diam, yaitu melakukan observasi; tapi di observasi kali ini saya membawa sebagian ‘hasil latihan’ yang saya dapatkan dari upaya untuk diam: non-reactivity. Saya melakukan observasi tanpa target untuk dapat mengubah apapun; just observe. Ternyata, dari kegiatan observasi yang “observasi aja” ini, saya jadi ‘melihat lebih banyak’; so much that sometimes it just comes rushing into me. Dari banyak ‘data’ yang rushing in itu, dan dari energi yang berhasil saya hemat dari bersikap non-reaktif, saya jadi punya modal untuk membuat keputusan yang lebih ‘evidence-based’ dan holistik. Saat keputusan itu ‘evidence-based’ (i.e. masuk akal) dan holistik (i.e. sudah mempertimbangkan berbagai konteks sehingga relatif lebih bisa diterapkan pada banyak konteks sekaligus), keputusan ini jadi applicable dan… efisien. Saat saya merasa bisa ‘menciptakan’ sesuatu yang applicable, sense of accomplishment-nya tu dapet banget, dan saat sesuatu itu efisien, saya jadi semakin hemat energi. Saat saya bisa menghemat energi yang saya gunakan untuk membuat suatu pencapaian, saya jadi masih punya sisa energi untuk melakukan hal-hal yang saya suka. Saat melakukan hal-hal yang saya suka, saya… bahagia.

Saat saya bisa melakukan hal-hal yang saya suka, yang lain rasanya tidak terlalu penting lagi. Haha. Saya jadi tidak merasa perlu membuat hidup orang lain repot sebagai upaya balas dendam karena mereka membuat hidup saya repot. Dengan tidak membuat orang lain repot, saya justru mendapatkan sense of independence yang juga… bikin saya bahagia. Saya jadi lebih bisa menerima saat direpoti orang lain karena merasa bahwa mereka tidak sedang balas dendam karena saya sudah merepotkan mereka, tapi.. ya mereka minta tolong karena memang perlu; dan bahwa jika saya menolong, itu karena saya memang bisa. Saat orang bicara tidak jelas dan akhirnya terjadi salah paham, saya juga bisa menghadapinya dengan lebih tenang karena merasionalisasi, “yakalok namanya pikiran lagi ruwet, ya wajar aja kalau dalam berkomunikasi juga jadi ruwet.” Karena hal itu sesuatu yang wajar, jadi relatif tidak ada yang perlu ditanggapi dengan gitu banget. Akhirnya saya jadi nggak gitu-gitu banget, dan saat saya nggak gitu-gitu banget, saya tenang. Saat tenang, saya… bahagia.
Jadi ya.. begitulah.

Hidup tu yang penting baik-baik saja dan bahagia, dan ada banyak cara untuk mencapai baik-baik saja dan bahagia. Tidak harus ambisius, tidak harus membabat habis segala tetek bengek yang (seolah) menghalangi jalan kita menuju bahagia, karena.. happiness doesn’t always happen after some thousand miles of ‘walking’; happiness is when we’re enjoying every single step for knowing that it's our own conscious choice.



Udah, gitu aja. Ndak nanti saya dibilang pencitraan sehat mental padahal sebenarnya itu fiktif belaka XD

Sunday, 11 September 2016

Saya sudah umur segini: a PMS-induced-blabbering

Saya sudah umur segini. Sudah tidak lagi perlu dipuji hanya karena saya “berani tampil” atau “biar pernah.” I’ve done some 300+ “gigs.” Meski saya bukan profesional dan tidak dibayar untuk berbagai hal yang sudah saya tampilkan, saya cenderung menyikapi segala “gigs” itu dengan seprofesional mungkin. Artinya, saya punya standar yang harus saya capai. Artinya, saya melakukan segala upaya agar standar itu tercapai dan bisa dipertahankan. Artinya, kecil kemungkinan saya akan berbasa-basi busuk semacam, “aduh maaf ya cuma bisa segini aja soalnya nggak cukup waktu untuk persiapan, dan modal/SDMnya terbatas.” Paling banter mungkin saya hanya akan membahasnya seperti artikel-artikel di jurnal membahas strength and limitations penelitian tertentu. Basa-basi busuk seperti itu biasanya muncul jika ada makhluk delusional yang bicara besar di awal, janji ini itu, beride-ide ini itu, tapi tidak mempersiapkan sustainability plan apapun untuk menghadapi konteks saat ide-ide itu mulai dicobakan di dunia nyata. Kalau sejak awal yang namanya konteks (with the every aspects it relates to) dan sustainability plan itu sudah dibicarakan dan diantisipasi, ide-ide akan berjalan dengan realistis dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Tentu saja akan ada hal-hal yang memang tidak bisa dilakukan. Meskipun begitu, untuk tidak melakukan apa yang memang TIDAK saya janjikan, saya cukup yakin bahwa saya tidak perlu membuat lebaran datang lebih awal dengan acara maaf-maafan.

Saya juga sudah tidak lagi terlalu tertarik mencoba ini itu hanya karena “Ini kan baru” atau “Ini lagi trend lho.” Balik lagi, lihat konteks. Pada situasi kita yang sekarang, do we need that new thing? Is that trend applicable to our context? Kalau itu membuat saya jadi terkesan konservatif, ya tidak masalah. Namanya kesan, apa saja bisa muncul, dan bukan berarti segala sesuatu yang muncul itu adalah sesuatu yang harus disikapi. Salah satu guru yang saya kagumi pernah berkata bahwa yang membedakan pendidikan tingkat sarjana dengan tingkat pendidikan di bawahnya adalah bahwa sarjana itu mendekati segala hal dengan sikap skeptis. Bukan sinis, tapi skeptis. Mungkin terjemahan terdekatnya dalam Bahasa Inggris adalah “Proceed with caution.” Artinya, oke kita jalan, kita coba, tapi dalam perjalanan uji coba itu kita akan hati-hati. Kadang yang bagi saya mengesalkan sebenarnya bukan karena hal itu baru atau bertentangan dengan kebiasaan saya, tapi karena… kadang orang yang bilang “Ini kan baru” atau “Ini lagi trend lho” itu tadi tidak punya alasan lain untuk melaksanakan sesuatu selain dua kalimat basi itu. Begitu saya tanya tentang “analisis awal” untuk risk and benefit, jawabnya langsung “Ya kan ini baru, jadi kita belum tahu bagaimana risk and benefit-nya” atau “Saya kemarin sudah melakukan ini SEKALI dan langsung berhasil.” Kemudian saya googling. Kemudian ternyata ada baaaaanyaaaaaaakk report tentang acara sejenis yang sudah diujicobakan di berbagai konteks dengan berbagai hasil. Terus saya balik tanya lagi, “Ini ada data kaya gini, kendala potensialnya ini ini ini. Sejauh mana itu sudah dipikirkan?” dan jawabannya adalah, “Belum sih..” terus habis gitu disambung dengan, “Ya udah deh nggak usah, kok kayanya susah.” Hiiiiihhh mbok kene takbalang sandal.. *mengelus dada *trepes *hih malah tambah bete

*breathe
Jadi prinsipnya gini.
Sejauh mana orang itu siap untuk mempertimbangkan segala konsekuensi dari idenya dan sejauh mana orang itu mau berupaya untuk mencari ‘data’ yang objektif (bukan subjektif) untuk mendukung idenya, sejauh itulah dia akan berkomitmen untuk melaksanakan apa yang (katanya) dia impikan/ide-kan. Kalau saya harus terlibat dalam sesuatu ‘proyek’ yang penggagasnya nggak berkomitmen dan manfaat kegiatannya nggak jelas, hla nggo ngopo? Mbok mending aku neng ngomah nggosok jedhing disambi nyetel TRG. Luwih apik nggo kesehatan mental. Saya mungkin akan bisa menerima sesuatu yang baru tanpa mempertanyakan apapun kalau saya merasa saya sedang cukup selo dan semacam.. yaaa daripada enggak, ya nggak pa-pa, coba deh. Tapi yo mit, saiki aku ra lagek selo. Tur nek urusane karo wong akeh ki nek meh mung “yaaa daripada enggak, coba aja deh,” kok yo temapuk.. Urusan uwong kok dijajal-jajal. Seperti tagline minyak embuh kae, “buat anak kok coba-coba.” Hih. Nek meh coba-coba ki ngisi TTS neng majalah Bobo wae, ra sah ngajak-ajak uwong-uwong sing ra selo.


Wis ah. Nggarap PR dhisik. Ibadah PMS-induced-blabbering dinyatakan selesai.

Thursday, 1 September 2016

Starting up!


I'm starting up a new stuff! Together with my former university choir mates: this language lecturer alto fella and helped by the soprano mommy with the much needed economy degree, we're currently starting up a a chat-based Bahasa Indonesia and Basa Jawa course named Bisa Bahasa (please please please click and like the FB page here)


During these last few weeks we've been having some great deal of exciting discussions about how we'd like this course to work. I feel really delighted that I'm working with a couple of ladies who are smart, driven and open to new ideas, who seem to deal pretty well with my most-people-find-it-annoying attention to details. It's also nice that they seem to really understand the required extra work that should be done for a start-up ---something I can't really find in many other people around. Somehow it makes me feel like we might be able to build our own working environment where people support each other -instead of bringing each other down- and that might be a pretty valuable investment for our mental health.. haha

Anyway. After some weeks of discussions, it turns out that we still have some issues that might need to be fixed before we actually 'launch' the course. Despite feeling confident with our language tutoring and administrative skills, the big thing is that we're still pretty much unsure with what potential students would expect when the course is delivered via internet. Soooooo WE NEED YOUR HELP!!
To gather ideas and to inqure what potential students might need, we've made an online survey that that you can check here: https://goo.gl/forms/6YmtphTxGLI3pOO63 
Please complete this survey, and do feel free to share this information with anyone who might be interested. Any responses would be much appreciated! Thank you very much!

Thursday, 25 August 2016

The Semarang Conference

I'm not actually sure how I got here. I mean, Semarang isn't quite a city that I imagine I'd love to explore, nor that I have any friends I'd like to hang out with in this city.. but maybe it was my somewhat excessive ideas. Yep, those ideas that popped out when I was sorting out topics for my thesis.. then got kind of too bad to throw away without being presented and be given feedback... so I decided to just present it in this conference. Then also I might miss the 'thrill' of doing a presentation in a conference. Well. It seems that I shouldn't expect too much about being thrilled by doing a presentation because I'm just not, but.... day 1 of the conference has passed, and it feels good!

the poster I presented
I presented this simple research that I intended to kind of give a glimpse of an aspect of psychiatric practice in Bali that might not be commonly found in other places. It got me thinking quite a lot that maybe "cultural psychiatry" is not enough; it should be "CROSS-cultural psychiatry" if we were to really try to meet the demand of care nowadays. It also made me realize that somehow the mental health care just wouldn't work without an interdisciplinary approach that includes policy maker, educational system, proper funding, transportation, and maybe many other things; an yes, this is quite an irony when we take a look at how fragmented science is nowadays (as also mentioned in a lecture today by the professor).
Talking about being fragmented, by the way, also got me thinking about those separation thingy that kind of happens in Indonesia where people... ah never mind. I just don't enjoy it when my FB news feed are filled with posts with blaming tone, but.. I can always deactivate anytime it feels too much, so.. whatever :p
Yang jelas pak gubernurnya tadi ganteng bok.. tinggi kurus semacam om AE versi ngebass dengan bentukan yang less cynical. Uhwaw.

meeting up with some friends
I also got to meet some friends from high-school or my previous university who are currently also studying psychiatry and I also happen to know more psychiatrist from other places now.. so I feel more 'engaged' and less anxious. It's just nice to be able to exchange ideas and excitement in the field (instead of the somewhat hopeless 'yang penting lewat' feeling), to learn about other things that aren't too clinical, and to somehow find out that my interest in the preventive and educational aspects of psychiatry aren't actually bullshits. Haha. At least in my case, sometimes I find it hard to believe that those concerns aren't bullshit because the setting that I tend to see more every day is clinical setting which is highly "curative-minded"; not preventive-minded, educational-minded, nor rehabilitative-minded. It's nice to be reminded that psychiatry is a very large and diverse branch of science, and that every individual has his/her own place within the field; and that if you're not doing what everyone's doing, it's okay. I feel supported, accommodated, and more motivated in sticking what I believe I can do best. It's awesome :D

So anyway. That's day one. There will still be two more days, and I'm really looking forward to learn some more! Dan of kors, ga rugi guweh kemaren catok, potonya jadi.. mayaaan <3 

Wednesday, 10 August 2016

The transient nature of things

Sometimes the tough part of dealing with things you like is when you know that they won’t last.

I’m currently on my fourth year of education, and this means that I’m like 18ish percent away from finish. As I still haven’t really decided what I’m going to do after finishing this thing… I don’t know. To some extent, it makes me feel somewhat insecure. It also makes me reflect quite more than usual about how the process has been, what kind of professional I have become, what I have encountered along the way, how ‘usable’ I would be by that time I graduate, what kind of contribution I could possibly make to the community in general and to my field specifically and how I would contribute… and such philosophical things that I usually prefer not to think about because thinking about such things somehow makes me feel like a grown up :p Well okay, I know I’m a grown up, but.. I even had one grey hair some weeks ago! I can’t believe it! But anyway. I think more about those things. When I’m kind of in thinking phase, I tend to spend less time with other human beings. When I spend less time with other human beings, there’s a bigger chance about kejombloan guweh being extended to indefinite amount of time, so.. it can be quite a dilemma. Not that much of a dilemma, though. Maybe a little.

Or.. a little more than a little. Whatever.

The point is, at least in my case, one thinking leads to another, and it can be scary.
I imagine that ending something that I’m used to kind of live for every day, at the time when it really comes.. that would feel really hollow. It happened when I left the choir world due to the end of my study in MedSchool *eh* and.. it took quite a long while to… grieve over what-turned-out-to-be-transient nature of… the everything I used to have. And it was probably also at that time when I kind of questioned whether I really did have things, because when the time has come for me to lose them.. then I’ll just lose them. There isn’t much that I can do to stop that.
Of course I survived after the lost, but somehow I also realized that.. it’s irreplaceable. But still I have to let it go, so again, I mourn, and I let it go. And.. well. At this point, sometimes I just wonder whether I would mourn about the end of this education as much as I mourned when I ended my previous one. Maybe yes, maybe not; maybe both, maybe neither. I don’t know. Though yes, I believe I should be just okay. Letting go of things although the things are good are just a part of growing up, so.. it should be okay.

Despite those things that I had to let go, I do hold on to some precious ones that I continue to ‘carry’ with me until today, and actually I kind of plan to carry it until my last breath. I take pride in my ‘ability’ to carry those, and I wake up each day feeling grateful for having them in my life. I made friendships that lasts for years, I have built up a set of the so called personal/professional ‘style’ that has somehow thrived through many types of ‘weather’, I have goals and somewhat-well-defined ‘missions’ that I would like to accomplish in life, and.. I’m happy. Well. Generally happy.

Still, I kind of wonder.
Spending five years in a phase of life isn’t really a short time, so during that not-that-short time.. have I really.. become a better version of myself? Have I really done anything? Have my presence made any impact? Is there a thing that I could really carry with me in the long run? Will I be able to tell people with pride and joy when somehow I happen to tell a story about this phase of life? Have I been playing around too much and being too distracted with my own thoughts and deeds? Have I stupidly let go of things I shouldn’t have let go and holding on to some nonsense instead? Have I had enough time to celebrate and appreciate life the way it should be celebrated and appreciated? Have I learnt enough?



Well.
I don’t know.
Life is just too short, and I don’t really feel like looking back and gasp, “what a waste of time!”
I certainly hope not.


N.B: Tadi tu perasaan niatnta bukan nulis kaya gini.. kok jadi kaya gini yak :|

Sunday, 26 June 2016

Saya kehabisan kata

Saya kehabisan kata karena kamu jauh di sana. Melanglang buana di sepanjang dasar samudra, mengamati apa saja yang ada di atasnya. Sejak siang hingga malam, selalu ada warna, selalu ada yang membuatmu tertambat lebih erat di antara mereka; dan entah kenapa saya justru suka. Saat kamu mengembara, saat jejakmu bebas tersebar di mana-mana. Yang mengembalikanmu adalah udara, saat kamu perlu permukaan dan melihat sesuatu yang berbeda. Antara saya, dan yang lainnya.

Saya kehabisan kata karena kamu tak suka cahaya. Dalam terang, terbentuk banyak kata, dan buatmu itu sia-sia. Kamu seperti sudah tahu hatimu ada di mana, dan tak perlu mata untuk tahu. Tak perlu ada tanya untuk sampai di situ, dan tak pernah ada janji untuk tidak ada sesuatu yang baru. Yang mengangkatmu ke sini adalah penelusuran kisi, saat jauh adalah tak lebih dari dua puluh senti dan kamu sadar sepenuhnya bahwa saya ada. Hanya saya, dan bukan yang lainnya.

Saya kehabisan kata karena saya punya banyak agenda. Selesai S3 di usia tiga puluh lima, melakukan arpeggio bertempo allegretto dengan biola, atau bahkan sekedar melicinkan atasan favorit saya dengan setrika. Menjadi lumpuh dan jatuh sama sekali bukan pilihan, apalagi bagian dari rencana. Sekali itu terjadi, cukup sulit bagi saya untuk mempertahankan jangkar agar bisa yakin lagi. Tentang diri, tentang investasi, atau tentang saat ini; setidaknya itu yang saya tahu. Lalu kamu datang dan mengoreksi, lalu pergi. Yang membuatmu melihat ke belakang hanyalah pilihan, saat kamu mengambilnya sekali, mungkin dua atau bahkan tiga kali, lalu tidak lagi. Mungkin karena saya, mungkin karena yang lainnya.
     
Saya kehabisan kata karena saya bingung merangkainya. Mungkin karena segala kekampretan dunia ternyata menginduksi pembentukan jejaring neurofibril yang perlahan-lahan membuat saya demensia. Bisa juga saya terlanjur berprasangka bahwa sehebat apapun, kamu adalah manusia yang tak luput dari salah, dosa, dan serangan virus tagar Instagram yang membuat saya sangat merindukan kalimat lengkap berpola SPOK. Latihan vokal yang orgasmik pun saya rindukan, apalagi sekedar kamu; sudah jelas kamu bukan pengecualian. Yang menjaga jarakmu adalah masa lalu, saat konfabulasi menjadi pencacah paling efektif untuk memori yang enggan kamu bagi. Pada saya, tapi mungkin tidak untuk yang lainnya.

Saya kehabisan kata karena kita beda bahasa. Makna bagi saya dan bagi kamu bisa jadi sangat berbeda dan saya hilang arah, tidak tahu harus mulai dari mana. Saya tidak punya petunjuk untuk apa yang benar, saya sering salah, dan kebisuan pun hanya mau garuk-garuk kepala. Ini melelahkan dan membuat frustasi, tapi masih saya merasa akan ada akhir untuk hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini.. atau mungkin tahapan ini. Entah kapan, entah di mana. Yang membebaskanmu dari tanya adalah rasionalisasi, saat saya berusaha membohongi diri sendiri tiap kamu memberikan dispensasi. Tidak untuk saya, tapi untuk yang lainnya.

Saya kehabisan kata karena kita sudah bicara dalam waktu lama. Tanpa sadar, matahari sudah mengundurkan diri, dan kini hujan turun lagi. Pakai deras, pakai lama, pakai banjir, dan tentu saja pakai macet. Bikin capek, becek, lecek, jelek, bau ketek, keluar belek, dan tentu saja semakin lengkap saat nggak ada ojek. Yang mencegahmu dari hilang terhanyutkan adalah mimpi, saat saya bisa percaya bahwa setiap keteguhan akan ada balasannya. Dan balasan itu hanya untuk saya, bukan untuk yang lainnya.  

Gitu aja.
Udah, kamu pergi dulu urusin si frondosa sana, saya mau bikin ppt buat presentasi besok lusa. Tsk


Tuesday, 17 May 2016

I think I lost myself somewhere along the way..

…. And the process of re-finding it has been challenging and occasionally exhausting, yet also exciting. While I thought that moving to this beautiful island almost four years ago was only a matter of studying, it’s not actually the case. Being in this new environment, I’ve been faced with many differences from –if not opposites of- some values I used to believe: equity, simplicity, and independence. Of course it might be just me getting used to the real ‘workplace’ where I really get involved with both its fun and (many of) its shits; as I never really worked in a somewhat-complicated environment… but… well. I tend to believe that I deserve a workplace that at least not interfere with those personal values I believe as I thought a workplace should be professional (i.e. it doesn’t meddle with personal values as long as it doesn’t bother coworkers)… but when somehow the work is about people work… it might not be that easy to separate between professional and personal. Some personal values would inevitably ‘leak’ into the professional life, and when it encounters some non-concordant personal values of one’s coworkers, that’s when shits happen XD
I needed to learn other ways to somehow teach people to survive other than standing up for themselves, especially when the cases involve women; which just didn’t make sense at first, but.. somehow I learnt that human beings do have multiple ways to survive, and each different way would be applicable to different contexts. I also learnt that giving trust to a wider social circle to take care of a person might not be that exhausting, and that it could be a significant source of support instead. I learnt to value collectivism better instead of somehow condemning it as a source of dependence and indecisiveness. I also learnt that while abundance might make someone look like a ‘hoarder’, some abundance just happens and as long as it doesn’t hurt, then let it be. Sometimes people also don’t reason, they just do things as the ‘eldest’ and the ‘respected’ say, and.. at times it doesn’t hurt either.
But then, despite the effort to understand and tolerate things, I still don’t feel like I fit in.

Maybe it’s because I’m being a bit too stubborn about holding on to my personal values. Maybe because I’m congenitally stubborn, but maybe also because I see evidences that it works better and I need more evidence to somehow let it go for some contexts.

Maybe because I seemed to forget that “values” are not things that just pop up; they take time to grow and develop; and to change values–both mine and theirs- into a common understanding, that might take a life-long effort… which sadly, might not be that necessary anyway. So yes, I think I have been kind of delusional for some time. Maybe it’s because something significant happened and changed things on my side, and somehow I just mistook and over-generalized it as an empowerment that I, myself, could change things---when that’s not actually the case. I might have been as well so consumed by these things that I thought I could change, when I should’ve make a difference in other departments…. And it’s been frustrating as this meaningless effort has somewhat diverted me from being who I really am. Fortunately, though, I think I’ve come to the realization that… well.


In short, I need to go back to being myself and refocus, because that’s what I live best with. Not just for myself, but also for my surrounding.