Monday, 17 April 2017

Bye bye blue!

This photo was taken when I wore this blue dress for the first time on a Friday. The day when -during one 30ish minutes period- I happened to be a 'training object' for a colleague who's practicing hypnosis. The kind of hypnosis that involved me to be requested to remember the so-called happiest moment in life I could remember to somehow help me relax and hypnotized. The moment when what I remembered as the so-called happiest moment in life was the moment when I was with someone whom later (until today) I refer to as something like "Si Kampret Busuk Kutukupret" (would be referred to as KBK if mentioned again; not to be confused with Kurikulum Berbasis Kompetensi, please) because at that time, that was what I recalled as the happiest moment in life indeed. Maybe because one occasion when that moment happened was only like hours away before I put on that dress, so it was really recent and it kind of still lingered.
Maybe a few hours after that hypnosis, however, that effin' KBK sent me a news that just turned the so-called happiest into the so-called saddest. I was kind of broken down into pieces, totally shocked, and also very angry and at that time it just felt damn unacceptable. Added with the next day when some unfortunate things happened as well, actually I was somewhat surprised that I came out alive from those days.

Life went on.
Well. And so did the KBK-related misery. The misery that somehow coincided with a psychoanalysis training in which I was a trainee and again, a 'simulated patient' in which I had one hour to be analysed. While again, wearing that blue dress on the photo. Had another cry. Felt another loss for starting to realise that.. that 'pattern' that was kind of newly emerged due to the induction from those KBK-related stories, was somehow the very pattern I would need to let go like a.s.a.p. Otherwise, I would end up being destructive to myself. That might be the last thing on my mind, and I just thought.. "No, that's not gonna happen. I'm gonna stand up stronger, and I'm so coming out alive from these days"

So again, life went on.
The misery gradually changed form to 'simply' being considered as a harder way of learning, but it might not be that bad anyway. Losing is not that bad either because sometimes it means that there's some space to be filled with something new. Something.. or some things, that are just.. new. The new things, the new me; the new person who can tell herself,  "I am now out from that era of uncertainty, alive, and let's just keep it that way"

So.. life does go on.
Things change, they come and go. The old me has gone, and the new me has been reborn to come to stay, and no gap is unfilled. Old memories have gone, and the new ones would come replacing; the ones that help me to be a better benefit for myself and my surrounding, the ones that I need better. Even the blue dress will soon go, and maybe the new and brighter ones would come also. So...

Begitulah.
Sepertinya saya akan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak kontak dengan KBK yang  ori, alias yang "Kurikulum Berbasis Kompetensi", bukan yang KW dan akhirnya malah tidak jelas dan -to some extent- malah agak sosiopat, mungkin. Saya akan tinggalkan hal-hal yang memang perlu ditinggalkan. Blue (-partially-blue-ocean-related) memories, blue eyes, blue dress (dan mungkin baju jaga biru juga segera :p); semoga yang menyebalkan tidak berulang, sehingga cukup satu kali saja saya perlu bilang,

"Bye bye, Blue! Hope to never see you again!"

Sunday, 26 March 2017

Sekitar sebulan setelah kejadian

Sekitar sebulan setelah kejadian, saya masih merasakan ini itu yang kadang membingungkan.

Mungkin ada satu atau dua momen ketika saya tiba-tiba bersin-bersin tanpa alasan yang saya ketahui. Biasanya saya tahu alasannya karena penyebabnya kalau tidak debu, jamur, atau udara dingin, kemungkinan bau sesuatu yang menyengat. Sekarang saya tidak bisa membau. Jadi kalau di lingkungan yang tampak tidak berdebu, tidak berjamur, dan tidak dingin dan saya tiba-tiba bersin, kemungkinan besar ada suatu bau yang menyengat, tapi saya tidak bisa menentukan dari mana asalnya. Yang saya lakukan selanjutnya adalah mencari penampakan sumber bau tersebut, tentunya, dalam upaya untuk mengurangi durasi bersin-bersin. Kalau tidak ada yang tampak berbau menyengat di sekitar saya, ya sudah, berdoa saa bahwa memang keadaan aman dan mungkin bau menyengat tadi dari luar ruangan dan hanya sekedar lewat sebentar.

Mungkin saya juga jadi lebih mudah cemas saat sendirian dan kebetulan berada di lingkungan di mana ada banyak orang atau banyak benda yang mengeluarkan berbagai bunyi. Setelah telinga saya membaik dan bisa mendiskriminasi berbagai suara, mungkin hal lain yang perlu saya latih lagi adalah kemampuan selective listening. Karena apa? Karena jika saya tidak sedang fokus berbicara dengan seseorang atau bisa menemukan lagu untuk saya senandungkan perlahan sebagai “titik fokus”, pada lingkungan ramai seperti itu, semua suara seolah terdengar, dan itu membingungkan. Kadang saya juga jadi mendengar orang-orang yang bicara dengan nada yang sangat argumentatif dan entah mengapa itu membuat saya semacam lebih siaga; padahal jelas-jelas mereka tidak berargumen dengan saya. Entahlah. Sepertinya saya memang perlu latihan lagi.

Mungkin saya jadi lebih mudah lelah dibanding biasanya. Dua hari berturut-turut beraktivitas sampai jam 8 malam, dan tidur saya pun jadi lebih cepat. Hari berikutnya, saya masih merasa seperti perlu bayar “hutang tidur” . Padahal, dulu beraktivitas tiap hari sampai am 10 atau 11 malam ya hajar aja, masih kuat-kuat aja.


Tapiiiiiiii
Sekitar sebulan setelah kejadian, sepertinya saya juga mengalami beberapa perkembangan, dan ini cukup menyenangkan.

Sepertinya saya sudah bisa membaca dan berkonsentrasi lagi untuk waktu yang agak lama, katakanlah satu atau satu setengah jam, sebelum pandangan saya jadi agak kabur dan saya perlu memejamkan mata sejenak untuk bisa melanjutkan. Sedikit banyak hal ini menurunkan kebutuhan saya untuk ‘tidur siang’ dalam durasi yang relatif panjang, sehingga aktivitas siang hari tidak lama terinterupsi dan di malam hari saya bisa tidur lebih awal. Hari ini saya juga menemukan bahwa saya bisa menonton video berdurasi satu jam; suatu aktivitas yang sebelumnya juga sempat saya hindari karena cepatnya pergantian adegan dalam video tersebut bisa menginduksi pengelihatan saya untuk jadi kabur kalau terpapar cukup lama. Yah. Meski saat membaca juga kadang masih teralihkan saat HP berdering :p Mungkin ini saat mengaktifkan kembali gerakan mematikan mobile data pada jam-jam tertentu dalam sehari supaya lebih bisa konsentrasi. Hehe

Kemampuan saya untuk berjalan juga sedikit meningkat. Hari ini saya ternyata bisa berjalan sekitar 1,5 kilometer tanpa pusing mual muntah atau keblegong di trotoar Indonesia yang secara umum memang agak kurang pedestrian-friendly. Pandangan kabur masih ada sedikit, tapi bisa membaik dengan duduk dan memejamkan mata atau melihat pada satu benda saja yang posisinya dekat selama beberapa lama. Setelah “istirahat” ini, yang juga cukup membahagiakan adalah ketika saya kemudian melihat ke kejauhan, dan pemandangannya jelas. Tidak ada garis-garis atau gambaran manusia yang tampak ganda, dan saya bisa menghitung jumlah orang yang tampak di suatu lapang pandang dengan benar. Haha. Di jalan-jalan yang relatif kecil di mana kendaraan berjalan relatif lambat, saya mulai mencoba menyeberang sendiri, dan berhasil! Mungkin saya tidak lagi perlu terlalu khawatir untuk bepergian sendirian, yang penting tetap hati-hati.

Beberapa hari terakhir, mungkin karena saya sudah tidak lagi mengalami PMS, meski sepertinya saya masih cerewet berkomentar di status orang-orang di FB dan relatif lebih reaktif dibanding biasanya, mimpi-mimpi bertema kecemasan yang membuat saya bangun lebih cepat juga berkurang cukup signifikan. Kadang saya tidak bermimpi, kadang saya bermimpi tapi dengan tema yang netral dan hanya memicu reaksi semacam, “Oh gitu ya mimpinya? Baiklah” lalu tidak lama kemudian ceritanya terlupakan. Kadang masih ada beberapa memori yang sebelumnya tidak saya ingat gara-gara yang dipikir tesis melulu yang tiba-tiba saja muncul pada saat menjelang tidur malam. Beberapa minggu yang lalu mungkin memori yang muncul kembali ini akan membuat saya cukup kesal dan marah, tapi saat ini.. sepertinya saya sudah 99% merelakan mereka untuk sekedar jadi memori; tidak perlu diulangi, tidak dirindukan, tidak lagi diharapkan. Mungkin akan segera sepenuhnya terlupakan jika tanpa probing yang spesifik dan mendalam, dan selanjutnya digantikan dengan ingatan-ingatan tentang hal-hal lain yang lebih perlu diingat.


Yah. Begitulah.

Mungkin saya jadi lebih banyak menulis di blog karena di sini tidak harus ada citation di tiap kalimat atau paragraf seperti saat menyusun tinjauan pustaka untuk tesis. Rasionalisasi gitu, semacam “kan pokoknya aku udah nulis.. “ :p Mungkin saya sebenarnya ingin curhat dan cerita ini itu, tapi ada asumsi di pre-conscious bahwa kalau saya curhat secara live pada manusia, saat saya selesai bicara kalimat kedua, saya akan dapat tanggapan, “Udah, kamu tu istirahat aja, nggak usah dipikir yang gitu-gitu. Makan yang banyak, biar cepet sembuh” dan malah jadi batal memproses kekhawatiran saya secara kognitif (melalui bicara) dan malah langsung direpresi. Ya tapi nggak tahu sih, this current condition is just somehow unusual, changing relatively quickly, and maybe I just need to keep working on adapting to it day by day. It feels pretty much like.. life; but at its less familiar phase, somehow. But it’s okay. Things change, including this uncertainty, and I’ll come up stronger in the end :D

Tuesday, 21 March 2017

Saya sudah cukup lega – bagian 2

Saya sudah cukup lega karena sudah bisa kembali sekolah.
Meski konon kabarnya masih harus bed rest sampai sekian minggu which is like embuh secara sebagai anak kos yang tinggal sendirian di kamar, apa ya kalo saya bed rest terus lantainya bisa nyapu sendiri, cucian beres sendiri, barang-barang tertata sendiri? Meski anosmia. Meski belum optimal juga karena pandangan masih sering  kabur dan sakit kepala kadang nongol kalau kelamaan baca slide presentasi di layar atau di laptop atau bahan hardcopy. Meski masih sering izin untuk tidur siang atau sekedar duduk sekian menit untuk memejamkan mata. Meski kalau jalan kaki sekarang lebih pelan biar nggak nabrak karena pandangan kabur, dan belum bisa jalan kaki jauh dan masih malas menyeberang jalan sendiri. Gyahaha. Meski masih belum kembali jadi pelanggan go-r*de/ub*rmotor dan lebih memilih go-c*r/ub*rx. Meski malam kadang jadi serasa tidur terlalu malam, dan pagi agak sulit bangun pagi. Meski mimpi masih sering bertema kecemasan dan kadang membuat saya terbangun cepat tapi kemudian tidur lagi sampai kesiangan. Meski pegal atau sedikit nyeri masih sesekali terasa di sana-sini dan saya masih belum bisa sepenuhnya mengoperasikan (baca: mengolahragakan) otot-otot saya seperti sebelumnya. Meski belum kembali latihan menyanyi dengan kekuatan penuh.
Tapiiiiiii
(presentasi) poster lagi - lagi2 poster :p
Ada lebih banyak hari sekolah di mana saya pulang tepat waktu dibanding pulang lebih dulu, meski jumlah hari terlambat masih lebih banyak dibanding hari ketika saya datang on time :p Saya sudah bisa mengikuti sebagian kegiatan ilmiah meski entah berapa persen yang bisa saya mengerti. Momen tidur siang saya sudah mulai berkurang durasinya, dan sesekali saya masih bisa berbaring sambil merem tapi sambil jawab pertanyaan tentang kasus atau bahan ilmiah tertentu. Sudah sempat terbang ke Jawa jugaaaaa, dan ikut konferensi dengan topik psikoterapi paporit akoh setelah ngidam sekian tahun (meski pakai diomelin sana sini karena konon kabarnya harusnya rung oleh mabur numpak pesawat selain pesawat telepon atau pesawat televisi). Anamnesis pasien sudah bisa; dan lama, dan relatif lebih bisa memperhatikan dan mendengarkan dibanding yang saya perkirakan sebelumnya. Jalan kaki sudah bisa agak cepat, agak jauh, dengan sakit kepala, pandangan ganda, serta mual yang minimal selama atau pasca jalan. Transportasi masih mudah didapat dan Bu Susi juga berkali-kali menekankan nggak usah ngirit-ngirit, yang penting selamat; jangan naik motor, naik mobil aja dulu; yowes aku nurut wae :p Obat sudah bisa dikurangi dosisnya, dan konsekuensi penurunan dosis ini pun relatif tidak ada. Spv sepertinya jadi menahan diri untuk bertanya tentang tesis saya yang belum kunjung selesai dan cenderung membahas kondisi fisik saya saja, itupun tidak lama. Telinga yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena tidak peka dinamika dan tidak bisa diskriminasi lima suara kelompok a capella favorit, sekarang sudah lebih bisa peka dinamika dan sudah kembali bisa diskriminasi pasca dibersihkan di THT. Mencuci sudah sempat terjadi, meski setrikanya masih menunggu takdir Tuhan. Kecemasan akibat ketidakpastian mulai berkurang, begitu juga dengan marah-marah. Saya merasa justru saya sekarang jadi belajar bersabar, terutama terhadap diri saya sendiri karena ada banyak hal yang justru jadi laaaaaammmbaaaattt baaaaangeeettt saat saya yang mengerjakan. Gyahahaha. Jadi ya tidak apa-apa, biar pernah dan biar tahu rasanya berjalan lambat sambil menikmati apa yang ada. Yang penting lega karena masih hidup dan masih berfungsi :D


Saya juga sudah cukup lega karena ternyata beneran saya sudah lumayan move on dari mas-mas kampret yang sempat membuat saya sulit move on beberapa waktu lalu. Unfriend di FB itu ternyata metode move on yang efektif. Gyahaha. Hla ra lega piye jal, secara si kampret ini punya beberapa aspek penampakan yang mirip dengan salah satu personel bersuara bariton di kelompok vokal favorit. Jadinya kalau saya nyetel video yang lead vocal-nya si bariton ini, saya malah sakit hati. Padahal itu kelompok vokal favorit guweeeehhh, dan lagu-lagunya kaya apapun, ya sebagai fans yang tidak durhaka harusnya saya tetap suka lah ya.. hla ini akhirnya malah sempat menghindar. Laki-laki macam apa coba si kampret satu ini, membuat saya jadi menghindar dari sesuatu yang selama ini sangat saya cintai dan jadi survival kit saya yang cukup signifikan dalam menghadapi kehidupan dunia yang semakin keras ini ..*pret* Jadi setelah saya move on dan mendengarkan lagu-lagu mereka memberi saya perasaan yang seperti biasa, terlebih setelah kondisi telinga saya membaik, rasanya legaaaa. Rasanya merdekaaaa, dan saya tidak lagi jadi fans durhaka. Horeeeee :D Intinya, lain kali kalau saya terlibat lagi dengan orang yang gelagatnya akan membuat saya berubah jadi fans durhaka, baiknya segera disudahi saja. Saya sudah tidak penasaran lagi untuk tahu seperti apa rasanya mencoba bertahan di tengah ketidakpastian hubungan karena rasanya busuk dan selama tidak dipastikan ya akan tetap busuk; paling tidak buat saya. Ada banyak pekerjaan yang mungkin bisa saya lakukan, karya yang mungkin bisa saya hasilkan, dan dalam melakukannya saya perlu didukung oleh musik yang tepat dan bisa diandalkan untuk jangka panjang. Jadi kalau urusan laki-laki juga sama: saya perlu yang tepat dan bisa diandalkan untuk jangka panjang, dan yang lebih penting lagi, ‘urusan’ saya hanya sama dia. Nggak perlu ada perempuan atau laki-laki lain, sehingga sebisa mungkin nggak perlu ada kebohongan di sana-sini. Meski judulnya saya akan jadi psikiater dan konon kabarnya seharusnya punya mental and emotional resources untuk mengurusi kekecewaan dan sakit hati terkait kebohongan-kebohongan itu, yo mit mending aku nggarap paper mbangane ngurusi wong lanang sing hobi ngapusi njuk aku ra dibayar. Luwih cetha terms and conditions-nya njuk luwih berpotensi mencerahkan masa depanku mbangane wong ra jelas kaya kampret kae. Hih. Ya bagus lah itu kejadian di masa lalu dan sekarang sudah berakhir. Sekarang saya mau sekolah, jadi residen baik-baik biar cepat lulus dan cepat bisa cari penghasilan buat jalan-jalan ke Eropa termasuk Swedia. Wis pokoke mbalik fokus Swedia. Ya tapi lulus dhisik ding, biar tambah banyak leganya.



Ya sudah. Gitu aja untuk bagian dua. Nggak ada lanjutannya ya tentang topik “lega” ini. Sube suud ventilasi ne, sube puas jani :p

Sunday, 19 March 2017

Saya sudah cukup lega – bagian 1

Saya sudah cukup lega karena bisa pulang setelah rawat inap dua minggu di rumah sakit karena cedera kepala. Mungkin sampai hari kesekian perawatan, saya menghabiskannya dengan tidur dan dengan kepedulian yang nyaris hilang seluruhnya terhadap hampir semua hal di dunia ini; mungkin sebagian besar karena tidak ingin merasakan nyeri kepala saat bangun. Baru saat obat saya mulai dikurangi karena keluhan nyeri yang saya rasakan mulai berkurang, saya mulai ingat kalau saya punya telepon genggam yang ternyata setelah dicek, ada banyak pesan dari berbagai kenalan di berbagai tempat, menanyakan bagaimana kondisi saya. Saya tidak tahu bagaimana kabar kecelakaan yang saya alami sepertinya tersiar cepat; dan bahwa ternyata ada relatif banyak orang yang konon kabarnya mendiskusikan kondisi saya dan mengkhawatirkan ini itu. Baru saat itu setelah sekian lama saya hidup, saya merasa bahwa saya ternyata diingat oleh cukup banyak orang; tidak se-invisible yang selama ini saya kira. Hehe. Saya sangat menghargai perhatian, kepedulian, serta doa-doa baik yang sempat terlontar ini. Selama saya dirawat, teman-teman saya sesama residen (dan ternyata beberapa spv) juga banyak direpotkan sana sini tanpa saya sadari, dan saya sangat bersyukur karena saya jadi tidak kerepotan mengurus diri saya sendiri :’) Mama saya, teman main saya sejak di Jogja sampai migrasi ke Bali, teman-teman sesama chief juga sempat datang dan menunggui hingga cukup lama sambil ngobrol dan bercanda sana sini; sampai saya sempat merasa bahwa sebenarnya mungkin saya tidak sakit karena masih bisa tertawa nyaris seperti sebelumnya. Haha. Beberapa saudara, teman seangkatan di FK U**, serta beberapa orang lain yang mungkin agak sulit saya identifikasi juga sempat datang dan saya jadi merasa.. kepedulian orang-orang dari berbagai tempat di dunia yang mau meluangkan waktu untuk kontak dan hadir membantu saya selama dirawat di RS ini.. sangat saya hargai. Saya bersyukur untuk hal ini.

Pasca saya pulang, seorang teman yang tahu bahwa saya kadang masih mengalami beberapa gejala (sakit kepala, pandangan ganda, mual, belum bisa jalan jauh, anosmia) sempat bertanya apa saya merasa sedih dengan sakit yang saya alami, dan saat itu jawaban saya adalah tidak. Memang beberapa hari terakhir perawatan saat saya lebih banyak terbangun dan (mau nggak mau) jadi lebih banyak berpikir, dan saya juga sempat bertanya-tanya pada diri saya apakah saya sedih. Mungkin karena ada sekian banyak waktu yang harusnya bisa digunakan untuk mengerjakan tesis dan akhirnya justru ‘terbuang’ untuk rawat inap di RS. Mungkin karena beberapa gejala dan hendaya yang membuat saya masih harus membatasi aktivitas. Mungkin karena saya jadi batal menonton konser The Moffatts di Bali. Mungkin karena saya jadi kurang bisa mendiskriminasi suara saat mendengarkan lagu a capella meski lagu itu sudah cukup familiar untuk saya; atau karena kemampuan saya mempersepsi dan mewujudkan dinamika serta phrasing yang bagus saat bernyanyi jadi sangat berkurang. Hmm bisa jadi agak sedih karena poin terakhir, tapi selebihnya ternyata tidak.

Selain menemukan bahwa saya bersyukur karena banyak orang peduli, saya juga bersyukur karena saya ternyata punya kemampuan untuk menghabiskan sekian banyak waktu untuk diam; sesuatu yang mungkin dulu membayangkan saja sudah cukup menakutkan buat saya yang saat itu relatif banyak aktivitas dan multitasking. Saya juga bersyukur karena Tuhan sepertinya memberi saya “preface” sekaligus pengingat bahwa tidak lama lagi mungkin saya harus mempelajari melakukan banyak hal dari awal, dari tahapan yang mungkin paling remeh; sesuatu yang mungkin sempat saya lupa bahwa ini akan bisa terjadi kapan saja karena pada titik ini saya merasa hidup saya sudah mulai established, aman, dan relatif akan berjalan seperti yang saya tahu saja. Saya jadi merasa bahwa kejadian ini mungkin membuat hidup saya berubah menjadi memiliki lebih banyak ketidakmampuan dan ketidakpastian. Sempat hal ini membuat saya merasa sedih, takut, dan marah; tapi di sisi lain hal ini membuat saya juga merasa seperti kembali muda, dan saat saya muda, itu artinya saya punya cukup energi. Energi untuk menghadapi perubahan. Energi untuk berkreasi dan mengkonsep hal-hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Energi untuk lebih banyak belajar. Energi untuk memberi berkontribusi dan memberi lebih banyak manfaat. Energi untuk terus hidup dengan bersemangat dan bahagia. Mungkin.. itu sudah sangat cukup, jadi.. mungkin saya memang lega :)


Sudah. Itu dulu untuk bagian satu :D

Saturday, 11 February 2017

Tentang menjadi jomblo dan berinvestasi untuk pipa bocor

Mumpung menjelang Valentine, saya mau membahas hal-hal yang berbau relationship ya. Sejauh ini saya cukup bangga dengan diri sendiri karena (saya merasa bahwa) sejauh ini tulisan-tulisan saya di blog ini relatif bisa ‘anonim’ dan minim risiko untuk membuat orang merasa “ini kayanya ngomongin gue deh.” Ya mungkin karena blog-nya relatif nggak ada yang baca, jadi nggak ada yang merasa. Meskipun begitu, just in case ada pembahasan yang ternyata dirasa menyinggung, percayalah, bahwa kesamaan ini hanya kebetulan semata meski bukan fiktif belaka. Kalau ada yang kemudian jadi bete dan mau ditraktir krupuk buat ngilangin bete, langsung japri aja ya. Gampang, bisa diatur.

Jadi gini.
Dua tahun terakhir ini, thanks to T*nder, saya bisa ketemu mas2 dalam jumlah yang lebih banyak dibanding jumlah yang pernah saya temui dalam 28 tahun sebelumnya dikalikan dua. Seru sih, dan saya jadi banyaaaaakk sekali belajar. Tentang pola-pola hubungan yang tidak konvensional, tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam berjalan atau tidak berjalannya suatu hubungan, tentang apa yang saya mau dan butuhkan, tentang apa yang bisa saya terima dan tidak, tentang perbedaan, tentang cara komunikasi, tentang manajemen waktu dan keterlibatan emosional di medsos, tentang kompatibilitas, tentang hati, tentang trend masa kini, dan sebagainya. Uraian di bawah ini adalah sebagian cerita tentang hal-hal yang sudah saya pelajari tersebut. Nggak ada tips and trick karena setiap orang itu unik, dan otomatis setiap hubungan juga akan unik; ini sekedar pemaparan tentang apa yang (menurut saya) saya tahu karena sudah saya alami.

Oke. Let’s get started.

Poin pertama, meeting people is now easy, so probably cheating is easier as well. Ini hipotesis, tapi ya.. mungkin pada pernah dengar lah cerita-cerita tentang mereka yang hubungannya jadi goyah karena ketemu mantan atau kenalan baru via medsos. Buat saya pribadi, kemudahan ini ternyata sempat memberikan pengalaman buat saya untuk jadi semacam selingkuhan yang sialnya baru saya sadari setelah kontak berakhir. Saya sempat marah sama diri sendiri dan sempat berulang-ulang bertanya, “How come I didn’t notice?” and because I’m a (soon-to-be) shrink, pertanyaan seperti ini tidak hanya membuat saya mempertanyakan judgement saya sebagai seorang pribadi, tapi juga sebagai seorang profesional. Long story short, at least buat saya, jadi selingkuhan itu nggak enak. Dulu sudah pernah juga diselingkuhin, dan itu juga nggak enak. Nggak usah lah ya saya melanjutkan siklus nggak enak ini dengan berselingkuh dan membuat orang lain jadi berada di PNW (posisi nggak wuenak) instead of PW (posisi wenak). Saya masih percaya bahwa hal-hal nggak baik yang saya tanam suatu saat pasti akan saya tuai, dan uripku ra selo-selo banget jadi saya akan lebih memilih untuk menanam yang (menurut saya) baik daripada yang tidak baik. Although of course, baik atau nggak baik itu selalu arbitrary. Kalau mungkin ada yang bilang, “Selingkuh aja kali, kan enak..” ya mungkin di elu enak, gue sih ngrasanya enggak enak, jadi ya gue nggak usah lah. Elu sih terserah.



Poin kedua, seperti yang sempat dicetuskan ‘beliau’ saat melakukan psikoanalisis ke saya, saya ternyata nggak suka hubungan non konvensional. By "konvensional", I'm referring to that kind of relationship which is long-term, secure, and monogamous; not exactly a marriage, though. Saya nggak bilang hubungan non konvensional itu salah, but I just didn’t like it when I was kind of in it, I still can’t imagine I could change my mind into liking it in the future, and I can’t imagine going on living while continuously being at something that I dislike either. I’d definitely rather stay in my comfort zone: njomblo, karena pengalaman selama bertahun-tahun sebagai jomblo yang konsisten nggak laku-laku mengajarkan bahwa momen di mana saya paling produktif dan bermanfaat bagi orang lain, adalah saat saya sedang jomblo; dan bukan saat saya sedang punya hubungan but the relationship went like shit. Kalau katanya kita mau menjalankan spirit agama sebagai rahmatan lil ‘alamin dan kita tahu bahwa paling bermanfaatnya adalah saat jadi jomblo, ya udah lah ya, njomblo aja gpp, yang penting tujuan tercapai inih... 
*mbak kesambet apa mbak kok mak bedunduk relijius.. *gapapa, ngomyang dikit aja mumpung masih belum ganti KTP

Poin ketiga, meski judulnya “dating app”, seringkali yang didapat justru bukan “a date”, and it’s just okay. Karena posisi saya di Bali yang mungkin merupakan tujuan wisata (dan mungkin juga tujuan kerja) domestik dan internasional, saya relatif lebih banyak ketemuan dengan antek asing dibanding mas2 lokal. Saya relatif lebih banyak swipe left untuk mas2 lokal karena biasanya pada nggak nulis profil (yang bikin saya mikir, “ah kaya gini mah kl di-swipe-right paling juga ga bakal message, ga bakal ketemuan. Ngapain juga ngumpulin poto2 mas2 gajelas di HP, mendingan ngumpulin skrinsot guideline psikofarmaka). Ya tapi tentu ada mas2 lokal yang profilnya oke, dan setelah ketemu ngomongnya juga lumayan enak dan nyambung. Antek-antek asing juga fifty-fifty lah. Ada yang asik, ada yang brengsek. Banyak yang enak diajakin berbagi cerita tentang pengalaman dia selama traveling, apa yang beda tentang hidup di negara asalnya dan di Indonesia, pengetahuan-pengetahuan praktis, opini-opini tentang topik tertentu.. dan sebagainya. Pada kasus yang seperti itu, saya juga senang karena jadi punya kesempatan untuk cerita betapa beragamnya Indonesia, bertanya tentang hal-hal yang sebelumnya tidak yakin bisa saya tanyakan pada siapa, atau bahkan belajar mengapresiasi sudut pandang yang berbeda. So it’s been kind of nice, I guess J

Poin keempat, suka atau enggak, menjalin (dan mempertahankan) kontak itu butuh modal. Modalnya bisa dalam bentuk waktu yang harus disediakan untuk sekedar balas message atau ketemuan. Duit atau transport yang perlu dikeluarkan biar bisa ketemuan dan kontak lagi dan ketemuan lagi. Kapasitas verbal yang adekuat buat bisa menentukan ketemu kapan di mana jam berapa mau ngapain dan bukannya sekedar kirim lokasi disertai pesan “this is my hotel”. Terus kenapa kalau itu hotelmu? Saya disuruh jadi investor buat bayarin biaya maintenance pipa bocor? Ya sori, ngga level, aku ra nde dit nggo koyo ngono; mbayar sekolah wae ijih njaluk bapak emakku. Hih.
Modal lain yang diperlukan bisa juga berupa keteguhan hati untuk nggak ngacir dari janjian meski selalu ada potensi bahwa orang asing yang akan kita temui adalah serial killer, atau yang lebih parah lagi, f*rh*t *bb*s yang menyamar jadi mas-mas bermuka brad pitt dengan profil meyakinkan. Kemampuan untuk mengendalikan diri agar tidak ada makhluk tak berdosa yang terbunuh saat kita kesel banget karena janjian dibatalkan pada last minute saat kita sudah ada di lokasi padahal demi memenuhi janjian itu, ada tesis yang pengerjaannya jadi tertunda. *uhuk *alibi
Pada intinya, kalau kontak itu memang bagus, atau at least nggak merugikan, punya modal dan menggunakan modal itu memang akan jadi keniscayaan. Kalau katanya menjalin hubungan itu harus dimulai dengan tulus, kok sepertinya berat ya, karena yang saya tahu, orang yang namanya Tulus itu cuma ada satu dan sudah sibuk jadi artis. Saya rasa dia tidak akan sempat menjalin hubungan dengan semua jomblo di dunia ini, jadi ya nggak usah dipaksakan lah.

Jadi begitulah.


Kesimpulannya, saya sebenarnya lumayan ikhlas jomblo tapi ya kalau ada mas2 jomblo self-content tampan cerdas bermusikalitas yang lewat terus menganggap bahwa saya harusnya didepak dari zona nyaman itu, ya nggak pa-pa juga. Bisa nego, asal mau bantuin saya ngerjain tesis.. *tetep

Saturday, 7 January 2017

(Inter)personal space part 2: Ruang saya

Catatan: sebenarnya saya sedang tidak suka mengetik karena ada beberapa tombol di kibor laptop saya yang kadang mendadak seperti terpencet sendiri dan kursornya jadi lari-lari, tapi karena toh saya harus segera mengetik proposal penelitian, anggap saja ini pemanasan :p

Sejauh ini saya masih memegang prinsip bahwa jika ada hal-hal yang tidak bisa saya ungkapkan secara jelas dan tepat sasaran, itu artinya saya akan harus siap untuk melakukan supresi terhadap hal-hal itu hingga mencapai satu dari luaran berikut: 1) saya menemukan cara untuk mengkomunikasikannya dengan baik; 2) saya merelakan hal itu untuk tidak tersampaikan. Ini berarti bahwa saya tidak membiasakan diri untuk menyasar orang dengan cara menyindir, karena (bagi saya) menyindir bukan cara komunikasi yang jelas dan tepat sasaran. Saya juga berusaha untuk tidak memanipulasi lingkungan (atau pihak yang saya target) untuk membuat maksud saya tersampaikan, karena namanya jalan memutar itu biasanya jalurnya lebih panjang dan melelahkan. Saya akan bersedia menempuh jalan memutar yang melelahkan ini kalau: 1) durasi yang diperlukan untuk jalan memutar ini  relatif bisa diprediksi dan masih dalam rentang waktu yang memang masih dalam kapasitas saya; 2) analisis risiko/manfaat mengatakan bahwa ini kemungkinan besar akan lebih banyak manfaat daripada risikonya---contoh dari situasi ini adalah saat saya diskusi MiniCEx dengan koas. Kalau saya bertanya dan koas menjawab dengan jawaban yang sudah nyrempet tapi belum tepat, saya biasanya tidak langsung memberitahukan jawaban yang benar, tapi mengajukan beberapa pertanyaan lain yang saya harapkan bisa memandu untuk kembali ke jalan yang benar; 3) Saya melakukan ini untuk seseorang atau sesuatu yang saya anggap penting to the level that I’m (virtually) willing to do anything or even die for it/him/her.

Terus ini sebenarnya mau ngomong apa?
Oh iya, interpersonal space.

Intinya, kecil kemungkinan bahwa saya akan ‘menginvasi’ (inter)personal space seseorang tanpa persetujuan atau kesadaran (setidaknya parsial) dari orang yang ‘diinvasi’ itu. Jadi kalau saya memang ingin masuk ke (sebagian aspek dari) kehidupan Anda, kemungkinan besar Anda akan tahu, karena saya mengkomunikasikannya dengan Anda. Kecil kemungkinan saya akan mengupayakan komunikasi dengan cara membuat status di Facebook yang selanjutnya membuat orang berpikir, “Ih ini kayanya tentang aku deh.” Bukannya hal ini tidak pernah terjadi, pernah tentu saja, tapi saat ini terjadi, biasanya itu karena saya sudah cukup yakin bahwa saya sudah mengupayakan segala cara komunikasi yang ‘beradab’… and you’re still not listening. Itu semacam ventilasi terakhir sebelum saya akhirnya memulai proses untuk merelakan dan beralih ke hal lain.

Mungkin yang bisa jadi masalah buat saya adalah karena saya kadang lupa bahwa pola pikir saya seringkali tidak cukup representatif untuk pola pikir yang (menurut saya) umum terjadi pada situasi sehari-hari. Contoh, saat suatu hubungan lebih banyak membuat saya merasakan emosi yang negatif dibanding positif karena (inter)personal space saya seperti terus-menerus diinvasi, I’ll just cut it and consider it gone from my life. Saat ini terjadi di media sosial, yang saya gunakan adalah blok dan unfriend/unfollow; dan kalau invasi terasa sangat menyesakkan, baik invasi yang bersifat langsung (mis. reaksi yang saya anggap berlebih untuk post saya, atau ajakan untuk keterlibatan dalam sesuatu yang sudah saya tolak baik-baik tapi penolakan saya tidak didengarkan) atau tidak langsung (mis. solidaritas dengan mengatasnamakan kelompok tertentu di mana saya tercakup di dalamnya saat sebenarnya solidaritas itu ditunggangi kepentingan segelintir orang), saya deactivate FB sementara; atau kalau terjadi di grup whatsapp, saya keluar dari grup. Tentu saja keputusan untuk melakukan hal-hal ini tidak saya buat secara impulsif, tetapi dengan pertimbangan yang didasari observasi ‘non-judgemental’ dengan durasi yang relatif cukup.

Saya tidak mempertahankan hubungan yang buruk dengan alasan “menjaga silaturahmi”. Kalau mau pakai polyvagal theory, pada prinsipnya kalau bersilaturahmi itu dianggap suatu pro-social behavior, memang itu bagus dan merupakan mekanisme pertahanan yang paling adaptif. Tapi, saat silaturahmi itu lebih banyak membuat saya merasa tertuntut daripada mendapat manfaat, akan muncul semacam perasaan yang ambivalen terhadap proses ini. Saat ada dua kekuatan yang saling bertolak belakang yang terus tarik-menarik, yang terjadi adalah energi banyak keluar, tapi kita tidak bergerak ke mana-mana, dan saya bukan penggemar kondisi seperti itu.

Alasan lain pernah saya dengar untuk tidak meninggalkan kontak yang lebih banyak membawa emosi negatif adalah, “nggak enak kalau ditinggalin, siapa tahu nanti kita perlu.” Ya.. gimana ya.. meskipun saya tidak religius, saya cukup yakin bahwa Tuhan itu baik. Artinya, kalau saya kehilangan sesuatu (termasuk suatu kontak), saya akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Selain itu, yang ‘nanti’ ya dipikir nanti. Yang dipikirkan untuk sekarang ya yang ada sekarang. Kalau yang ada sekarang adalah suatu hubungan yang tampaknya sudah busuk dan perlu dibuang, ya dibuang saja, karena.. namanya hidup, sepertinya memang tidak ada yang abadi. Things will change, and people too; that’s just how life is. Mungkin benar, suatu saat saya akan punya keperluan dengan hal-hal atau orang-orang yang sudah saya relakan pergi, tapi.. pada saat itu kemungkinan besar resources saya sudah berbeda, mindset saya sudah berbeda; dan sejauh ini saya cukup yakin bahwa apapun yang saya perlukan akan bisa saya dapatkan pada saat saya memang perlu mendapatkannya. Kalau belum dapat, berarti belum perlu. Gitu aja.

Alasan lain lagi adalah kalau kita menjauhkan diri dari kontak-kontak itu, dunia akan jadi kehilangan warna. Well.. menurut saya tidak juga, karena saat sesuatu hilang dari hidup saya, tempat kosong itu akan bisa saya isi dengan hal lain yang berbeda; yang mungkin tidak langsung fit in.. tapi dalam proses mencapai fit in itu, saya jadi diingatkan kembali bahwa hidup adalah proses yang dinamis; dan bahwa saat saya tidak mendapatkan yang saya inginkan atau yang saya anggap ideal, bukan berarti itu akhir dunia. Seringkali itu justru menjadi awal untuk pola baru yang ternyata lebih adaptif dari pola lama… dan pada akhirnya saya bisa menikmati juga.
Jadi ya.. gitu.

Semoga saya cepat lulus :D *ga nyambung

Saturday, 17 December 2016

(Inter)personal space part 1: Our mixed feeling (hence our ambivalence)

Beberapa hari yang lalu saya menyaksikan seorang teman melakukan semacam displacement dan simbolisasi berlapis sebagai reaksi terhadap suatu perubahan (inter)personal space yang sedang dia alami. Bisa saja saya terlalu heboh menginterpretasi, tapi.. buat saya, terlihat jelas betapa campur aduknya perasaan teman saya terkait perubahan ini. Ada kemarahan dengan setidaknya dua alasan yang bisa saya identifikasi. Pertama, karena tidak terima. Saat orang lain mengatakan, “I need my own (personal) space” kadang itu sama artinya dengan ‘mengusir’ orang yang selama ini dekat dengan kita. Namanya diusir saat kita tidak merasa melakukan kesalahan, saya rasa marah adalah reaksi yang sepertinya relatif wajar. Alasan kedua… agak lebih kompleks, dan terkait dengan perasaan-perasaan lainnya. Sepertinya ada semacam kelegaan bahwa saat satu orang berada di space-nya sendiri, space yang kita kuasai penuh akan menjadi relatif lebih luas karena tidak lagi perlu berbagi dan penambahan keluasan ini bisa melegakan. Di sisi lain, tentu saja tidak semua space yang tadinya dibagi bersama, bisa dikuasai, sehingga ada juga kehilangan sesuatu yang tadinya ‘seolah’ milik kita. Ada semacam kesadaran yang muncul bahwa mungkin apa yang kita miliki ternyata tidak sebanyak yang kita pikirkan, dan hal ini bisa memicu rasa kehilangan yang.. kind of sad, somehow. Mungkin ada juga perasaan yang berjalan bersama dengan kelegaan itu berupa apresiasi terhadap perpisahan antara me and not-me; yang tentunya seringkali berhubungan dengan perasaan tidak aman akibat adanya pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa saya yang sekarang ini memang benar-benar bisa untuk mengurus space saya sendiri? Bagaimana kalau saya melakukan kesalahan? Apakah saya sudah bisa cukup menghargai space orang lain? Bagaimana kalau saya tidak cukup menghargai space orang lain? Bagaimana kalau justru orang lain yang tidak menghargai space saya? Apa yang harus saya lakukan: marah, membiarkan, atau bagaimana?”

Yah. Kompleks, dan manifestasi kompleksitas itu bisa beragam. Pada teman saya, ia melakukan displacement (dan mungkin simbolisasi) dengan mengomel tentang orang-orang yang tidak menghargai space orang lain; tapi space yang ia bicarakan saat itu adalah space yang konkret, bukan (inter)personal space. Ia juga menunjukkan upayanya untuk yakin dengan the established-ness of the space-nya dengan cara mempertahankan usulan yang diharapkan dapat diterapkan secara kolektif; tetapi mungkin masih tampak kebingungan saat established-ness itu ternyata tidak selalu bisa dipertahankan dengan bersikap tegas dan menegakkan aturan. Satu konsep yang juga penting adalah bahwa (inter)personal space itu ternyata “liquid” dan selalu berubah; menyesuaikan dengan konteks sekitar, seperti cairan yang akan selalu berubah mengikuti bentuk wadahnya meski volumenya sebenarnya tidak berubah. And yep, awareness can be confusing, especially when it’s at early stage.

Observasi seperti diuraikan di atas itu tentu saja kemudian membuat saya berefleksi tentang (inter)personal space saya sendiri (yang tidak akan saya bahas di sini), hubungan interpersonal secara umum, serta satu atau dua teori yang pernah saya baca terkait hal tersebut. Yang akan saya uraikan lebih lanjut di sini adalah tentang “menjaga silaturahmi” dan kaitannya dengan “teori evolusi” dan mungkin dengan “the polyvagal theory

Jadi akhir-akhir ini ceritanya ada beberapa temans yang mengeluhkan isi linimasa medsos yang dianggap ‘hostile’ dan ‘menyedihkan’, dan sedikit banyak berpikir untuk mengurangi penggunaan medsos atau “memutus hubungan” dengan beberapa koneksi di sana karena menginginkan kehidupan yang lebih sehat mental. Mengurangi penggunaan medsos sepertinya lebih sulit karena saat ini medsos cenderung dianggap sebagai bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari (although some interpersonal encounters that I had during my days off some time ago clearly indicated otherwise). Karena itu, pilihan untuk “memutus hubungan” dengan pihak-pihak yang dianggap berdampak buruk terhadap kesehatan mental, dianggap sebagai solusi yang lebih mudah. Tapi benarkah mudah? Tidak juga. Karena memutuskan hubungan itu sama seperti ‘menandai’ space antara me dan not-me dengan batas yang lebih tegas, dan konsekuensinya bisa seperti yang saya ceritakan tentang teman saya tadi: perasaan yang campur aduk. And of course we tend to prefer certainty, sehingga kita selanjutnya berkutat pada pertimbangan pro dan kontra tentang perlu atau tidaknya memutuskan hubungan, karena… despite knowing that it’s not good, we still wish to preserve our current certainty; because… it’s ugly, but it’s still a certainty, and it is a certainty that we can live with. Well, to this point, at least

Jadi ya.. rempong. Kaya orang parkir gitu: gerak maju, mundur, kanan, kiri.. eeeehh ujung-ujungnya diam di tempat.



To be continued… :p