Saturday, 7 January 2017

(Inter)personal space part 2: Ruang saya

Catatan: sebenarnya saya sedang tidak suka mengetik karena ada beberapa tombol di kibor laptop saya yang kadang mendadak seperti terpencet sendiri dan kursornya jadi lari-lari, tapi karena toh saya harus segera mengetik proposal penelitian, anggap saja ini pemanasan :p

Sejauh ini saya masih memegang prinsip bahwa jika ada hal-hal yang tidak bisa saya ungkapkan secara jelas dan tepat sasaran, itu artinya saya akan harus siap untuk melakukan supresi terhadap hal-hal itu hingga mencapai satu dari luaran berikut: 1) saya menemukan cara untuk mengkomunikasikannya dengan baik; 2) saya merelakan hal itu untuk tidak tersampaikan. Ini berarti bahwa saya tidak membiasakan diri untuk menyasar orang dengan cara menyindir, karena (bagi saya) menyindir bukan cara komunikasi yang jelas dan tepat sasaran. Saya juga berusaha untuk tidak memanipulasi lingkungan (atau pihak yang saya target) untuk membuat maksud saya tersampaikan, karena namanya jalan memutar itu biasanya jalurnya lebih panjang dan melelahkan. Saya akan bersedia menempuh jalan memutar yang melelahkan ini kalau: 1) durasi yang diperlukan untuk jalan memutar ini  relatif bisa diprediksi dan masih dalam rentang waktu yang memang masih dalam kapasitas saya; 2) analisis risiko/manfaat mengatakan bahwa ini kemungkinan besar akan lebih banyak manfaat daripada risikonya---contoh dari situasi ini adalah saat saya diskusi MiniCEx dengan koas. Kalau saya bertanya dan koas menjawab dengan jawaban yang sudah nyrempet tapi belum tepat, saya biasanya tidak langsung memberitahukan jawaban yang benar, tapi mengajukan beberapa pertanyaan lain yang saya harapkan bisa memandu untuk kembali ke jalan yang benar; 3) Saya melakukan ini untuk seseorang atau sesuatu yang saya anggap penting to the level that I’m (virtually) willing to do anything or even die for it/him/her.

Terus ini sebenarnya mau ngomong apa?
Oh iya, interpersonal space.

Intinya, kecil kemungkinan bahwa saya akan ‘menginvasi’ (inter)personal space seseorang tanpa persetujuan atau kesadaran (setidaknya parsial) dari orang yang ‘diinvasi’ itu. Jadi kalau saya memang ingin masuk ke (sebagian aspek dari) kehidupan Anda, kemungkinan besar Anda akan tahu, karena saya mengkomunikasikannya dengan Anda. Kecil kemungkinan saya akan mengupayakan komunikasi dengan cara membuat status di Facebook yang selanjutnya membuat orang berpikir, “Ih ini kayanya tentang aku deh.” Bukannya hal ini tidak pernah terjadi, pernah tentu saja, tapi saat ini terjadi, biasanya itu karena saya sudah cukup yakin bahwa saya sudah mengupayakan segala cara komunikasi yang ‘beradab’… and you’re still not listening. Itu semacam ventilasi terakhir sebelum saya akhirnya memulai proses untuk merelakan dan beralih ke hal lain.

Mungkin yang bisa jadi masalah buat saya adalah karena saya kadang lupa bahwa pola pikir saya seringkali tidak cukup representatif untuk pola pikir yang (menurut saya) umum terjadi pada situasi sehari-hari. Contoh, saat suatu hubungan lebih banyak membuat saya merasakan emosi yang negatif dibanding positif karena (inter)personal space saya seperti terus-menerus diinvasi, I’ll just cut it and consider it gone from my life. Saat ini terjadi di media sosial, yang saya gunakan adalah blok dan unfriend/unfollow; dan kalau invasi terasa sangat menyesakkan, baik invasi yang bersifat langsung (mis. reaksi yang saya anggap berlebih untuk post saya, atau ajakan untuk keterlibatan dalam sesuatu yang sudah saya tolak baik-baik tapi penolakan saya tidak didengarkan) atau tidak langsung (mis. solidaritas dengan mengatasnamakan kelompok tertentu di mana saya tercakup di dalamnya saat sebenarnya solidaritas itu ditunggangi kepentingan segelintir orang), saya deactivate FB sementara; atau kalau terjadi di grup whatsapp, saya keluar dari grup. Tentu saja keputusan untuk melakukan hal-hal ini tidak saya buat secara impulsif, tetapi dengan pertimbangan yang didasari observasi ‘non-judgemental’ dengan durasi yang relatif cukup.

Saya tidak mempertahankan hubungan yang buruk dengan alasan “menjaga silaturahmi”. Kalau mau pakai polyvagal theory, pada prinsipnya kalau bersilaturahmi itu dianggap suatu pro-social behavior, memang itu bagus dan merupakan mekanisme pertahanan yang paling adaptif. Tapi, saat silaturahmi itu lebih banyak membuat saya merasa tertuntut daripada mendapat manfaat, akan muncul semacam perasaan yang ambivalen terhadap proses ini. Saat ada dua kekuatan yang saling bertolak belakang yang terus tarik-menarik, yang terjadi adalah energi banyak keluar, tapi kita tidak bergerak ke mana-mana, dan saya bukan penggemar kondisi seperti itu.

Alasan lain pernah saya dengar untuk tidak meninggalkan kontak yang lebih banyak membawa emosi negatif adalah, “nggak enak kalau ditinggalin, siapa tahu nanti kita perlu.” Ya.. gimana ya.. meskipun saya tidak religius, saya cukup yakin bahwa Tuhan itu baik. Artinya, kalau saya kehilangan sesuatu (termasuk suatu kontak), saya akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Selain itu, yang ‘nanti’ ya dipikir nanti. Yang dipikirkan untuk sekarang ya yang ada sekarang. Kalau yang ada sekarang adalah suatu hubungan yang tampaknya sudah busuk dan perlu dibuang, ya dibuang saja, karena.. namanya hidup, sepertinya memang tidak ada yang abadi. Things will change, and people too; that’s just how life is. Mungkin benar, suatu saat saya akan punya keperluan dengan hal-hal atau orang-orang yang sudah saya relakan pergi, tapi.. pada saat itu kemungkinan besar resources saya sudah berbeda, mindset saya sudah berbeda; dan sejauh ini saya cukup yakin bahwa apapun yang saya perlukan akan bisa saya dapatkan pada saat saya memang perlu mendapatkannya. Kalau belum dapat, berarti belum perlu. Gitu aja.

Alasan lain lagi adalah kalau kita menjauhkan diri dari kontak-kontak itu, dunia akan jadi kehilangan warna. Well.. menurut saya tidak juga, karena saat sesuatu hilang dari hidup saya, tempat kosong itu akan bisa saya isi dengan hal lain yang berbeda; yang mungkin tidak langsung fit in.. tapi dalam proses mencapai fit in itu, saya jadi diingatkan kembali bahwa hidup adalah proses yang dinamis; dan bahwa saat saya tidak mendapatkan yang saya inginkan atau yang saya anggap ideal, bukan berarti itu akhir dunia. Seringkali itu justru menjadi awal untuk pola baru yang ternyata lebih adaptif dari pola lama… dan pada akhirnya saya bisa menikmati juga.
Jadi ya.. gitu.

Semoga saya cepat lulus :D *ga nyambung

Saturday, 17 December 2016

(Inter)personal space part 1: Our mixed feeling (hence our ambivalence)

Beberapa hari yang lalu saya menyaksikan seorang teman melakukan semacam displacement dan simbolisasi berlapis sebagai reaksi terhadap suatu perubahan (inter)personal space yang sedang dia alami. Bisa saja saya terlalu heboh menginterpretasi, tapi.. buat saya, terlihat jelas betapa campur aduknya perasaan teman saya terkait perubahan ini. Ada kemarahan dengan setidaknya dua alasan yang bisa saya identifikasi. Pertama, karena tidak terima. Saat orang lain mengatakan, “I need my own (personal) space” kadang itu sama artinya dengan ‘mengusir’ orang yang selama ini dekat dengan kita. Namanya diusir saat kita tidak merasa melakukan kesalahan, saya rasa marah adalah reaksi yang sepertinya relatif wajar. Alasan kedua… agak lebih kompleks, dan terkait dengan perasaan-perasaan lainnya. Sepertinya ada semacam kelegaan bahwa saat satu orang berada di space-nya sendiri, space yang kita kuasai penuh akan menjadi relatif lebih luas karena tidak lagi perlu berbagi dan penambahan keluasan ini bisa melegakan. Di sisi lain, tentu saja tidak semua space yang tadinya dibagi bersama, bisa dikuasai, sehingga ada juga kehilangan sesuatu yang tadinya ‘seolah’ milik kita. Ada semacam kesadaran yang muncul bahwa mungkin apa yang kita miliki ternyata tidak sebanyak yang kita pikirkan, dan hal ini bisa memicu rasa kehilangan yang.. kind of sad, somehow. Mungkin ada juga perasaan yang berjalan bersama dengan kelegaan itu berupa apresiasi terhadap perpisahan antara me and not-me; yang tentunya seringkali berhubungan dengan perasaan tidak aman akibat adanya pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa saya yang sekarang ini memang benar-benar bisa untuk mengurus space saya sendiri? Bagaimana kalau saya melakukan kesalahan? Apakah saya sudah bisa cukup menghargai space orang lain? Bagaimana kalau saya tidak cukup menghargai space orang lain? Bagaimana kalau justru orang lain yang tidak menghargai space saya? Apa yang harus saya lakukan: marah, membiarkan, atau bagaimana?”

Yah. Kompleks, dan manifestasi kompleksitas itu bisa beragam. Pada teman saya, ia melakukan displacement (dan mungkin simbolisasi) dengan mengomel tentang orang-orang yang tidak menghargai space orang lain; tapi space yang ia bicarakan saat itu adalah space yang konkret, bukan (inter)personal space. Ia juga menunjukkan upayanya untuk yakin dengan the established-ness of the space-nya dengan cara mempertahankan usulan yang diharapkan dapat diterapkan secara kolektif; tetapi mungkin masih tampak kebingungan saat established-ness itu ternyata tidak selalu bisa dipertahankan dengan bersikap tegas dan menegakkan aturan. Satu konsep yang juga penting adalah bahwa (inter)personal space itu ternyata “liquid” dan selalu berubah; menyesuaikan dengan konteks sekitar, seperti cairan yang akan selalu berubah mengikuti bentuk wadahnya meski volumenya sebenarnya tidak berubah. And yep, awareness can be confusing, especially when it’s at early stage.

Observasi seperti diuraikan di atas itu tentu saja kemudian membuat saya berefleksi tentang (inter)personal space saya sendiri (yang tidak akan saya bahas di sini), hubungan interpersonal secara umum, serta satu atau dua teori yang pernah saya baca terkait hal tersebut. Yang akan saya uraikan lebih lanjut di sini adalah tentang “menjaga silaturahmi” dan kaitannya dengan “teori evolusi” dan mungkin dengan “the polyvagal theory

Jadi akhir-akhir ini ceritanya ada beberapa temans yang mengeluhkan isi linimasa medsos yang dianggap ‘hostile’ dan ‘menyedihkan’, dan sedikit banyak berpikir untuk mengurangi penggunaan medsos atau “memutus hubungan” dengan beberapa koneksi di sana karena menginginkan kehidupan yang lebih sehat mental. Mengurangi penggunaan medsos sepertinya lebih sulit karena saat ini medsos cenderung dianggap sebagai bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari (although some interpersonal encounters that I had during my days off some time ago clearly indicated otherwise). Karena itu, pilihan untuk “memutus hubungan” dengan pihak-pihak yang dianggap berdampak buruk terhadap kesehatan mental, dianggap sebagai solusi yang lebih mudah. Tapi benarkah mudah? Tidak juga. Karena memutuskan hubungan itu sama seperti ‘menandai’ space antara me dan not-me dengan batas yang lebih tegas, dan konsekuensinya bisa seperti yang saya ceritakan tentang teman saya tadi: perasaan yang campur aduk. And of course we tend to prefer certainty, sehingga kita selanjutnya berkutat pada pertimbangan pro dan kontra tentang perlu atau tidaknya memutuskan hubungan, karena… despite knowing that it’s not good, we still wish to preserve our current certainty; because… it’s ugly, but it’s still a certainty, and it is a certainty that we can live with. Well, to this point, at least

Jadi ya.. rempong. Kaya orang parkir gitu: gerak maju, mundur, kanan, kiri.. eeeehh ujung-ujungnya diam di tempat.



To be continued… :p 

Sunday, 27 November 2016

Reading - a (currently most) feasible survival kit

I always write “reading” in every time I need to fill a “hobby” column in a curriculum vitae or a form. However, its intensity has been going up and down from time to time, so I’m not an all-time keen reader; but I mostly am. The books I’m reading have somehow shifted than before, though. I used to read more fictions, but lately, ever since I had a smartphone, I tend to read e-textbooks, especially the ones with case examples. It feels more or less like reading a novel, but added with some theoretical explanation. It can still be surprising and inspiring, but no sick plot twist or such that would probably leave me feeling shocked or “paralyzed”, and I kind of like it better that way. I don’t know, maybe I’m getting old so I no longer like surprises and prefer to just stay safe :p

those books I read these last few weeks
Anyway. While I think people think that I genuinely like reading –which is true to some extent- my reading habit these last two years has been mostly formed by a ‘defensive’ and trying-to-survive stance instead of the exploratory one. Of course the two are hardly clear-cut stances; sometimes they take the appearance of each other, sometimes they’re happening at once in different proportion from time to time; but.. yeah. I think it’s been mostly a defensive state.


I defend myself from the discomfort of not knowing by reading. Of course I could’ve done the easier way by telling the truth that I don’t know, but these days I feel that people just don’t believe me when I said I don’t know. Reading helps me to know more; that way, I can say “I don’t know” less, hence the reduced discomfort.

I defend myself from the pain of heartbreaks and disappointments by trying to find the explanations of the ‘etiology’ or ways to do the so-called healthy ways of problem-solving from those books that I read. It can be counter-intuitive; sometimes I just feel like going angry and blurting things out while crying, but it doesn’t happen because there are ways; better ways to deal with those ‘misfortunes’. Although I occasionally wonder if it’s somehow deprived me of human contact, but.. there are just times when a proper human contact to deal with these things are just not possible. At some rare occasions, immediate human contact that should’ve been ‘therapeutic’ could even cause even more heartbreaks and disappointments, and in that case.. (binge) reading is the most feasible option, I suppose. It’s not the healthiest option, of course, since sometimes it delays me from doing things I should’ve done, but .. it helps me working things through. It helps me to at least have some explanation of those non-therapeutic human contacts.

I also find reading as a kind-of-okay replacement of the music-related-activities I could no longer do due to the current time, financial, and skill constraint I’m currently having. It also helps me to feel okay about not going out or traveling; something I used to regularly put on my to-do-list every time I see a vacancy on my schedule. As I’m currently saving for some things, refraining myself from going out (to a frequency that’s nearly zero) has apparently a pretty good way for doing so. Reading makes me feel like I’m still able to do a hobby I consider important without having to be depleted of financial resources and that energy that’s usually needed for traveling. As having a hobby means I have something to wake up to every day despite the knowledge that there’s a cruel world out there ready to crush me anytime *dramak*, so yes, it can be a pretty good survival kit :D

Reading also help me to appear more serious when I’m somewhere out in the public place, so people care less about doing some chit-chatting because lately.. I find it as too much of a stimulation. Haha. Simply going out and observing things around have been quite a lot of stimulation as I’ve somehow ‘sensitized’ to more details of things that I’m observing. Added with chit-chatting, there could be times when the stimulation just feels overwhelming and I’d rather just stay home XD


So.

Yeah. I do wish I could sing some more. Travel some more. Go out and have way much more fun. Maybe meet more people, try more things. It’s just with my current situation ----the demands I’m facing, my current level of resources, my unfinished ‘self-psychoanalysis’ and ‘mourning’ for some things.. I guess I’d still opt to reading for one of my important means of surviving. Well. In addition to looking for some consolation from my immediate and closest friends, of course. They’re still the best that happen to me. Always have, and maybe always will :D

Monday, 21 November 2016

On being an aspiring scientist: sometimes things are just not what they seem :P

NOTE: I'm not sure if it's of use, but I'm trying to omit names or other possible identifiers as --if I understand it correctly-- it might make me 'traceable' to the party discussed here, and this "traceability" (is there a synonym for this? blogspot seems to think that it's not a proper English word..) might have adverse consequences for me e.g in the form of they're using my name to make some not-so-delightful remarks on the web, so.. okay. I'd like to get immediately to the topic, but before that, let me make another two points of note to consider:
1. I'm a master level post graduate student from a developing country in the tropical part of Asia. I use scientific conferences as a reason to travel far, because when you never have that much cash to blow out, you need the so-called "greater good" to make your travel somewhat more relevant. In my case, that "greater good" is the scientific conferences.
2. While it might contain the word "scientific", this post (or even this blog) is by no means scientific, i.e. my 'research' about the particular topic in this post hasn't been in any way supported by a rigorous methodology. It's more of a view from my personal angle, so do feel free to disagree XD

Okay. So here's the story.
These last two or three weeks I've been pretty tense due to some things, and one of those "things" is my attempt to meet the paper submission deadline for this thing. I've been planning to join it ever since I found the information about it because of some reasons: 1) This is of my relevant interest. Well. At least at that time when I decided. Now it has kind of shifted, though :p 2) I want to go to the city because my most favorite music group on earth is based in the city but my mom would kill me if she knew I travel that far only for some kind of meet and greet or for the sake of teenage-like idolatry. 3) The real forum (i.e. the non-'hacked' one) is to be held in Melbourne and I did want to go there, but I no longer wanted to because I used to fancy a guy who lives in this city but now I no longer fancy him plus I don't feel like experiencing the continent on summer because I heard that it's effin' hot there, and I'm just dying to go to "the city" because I just love the band so much that I'm willing to do things even if it's only to get that sense of being close to them. P.S: I've warned you not to tell my mom about this.
It was actually a bit unusual when compared to the previous forums that I attended, in which the submission deadline was suddenly advanced for almost two months than the date that I remembered when I checked it some weeks ago. As the forum seems legit (judging from the 'exciting' graphics yet neatly worded descriptions of the website), I thought to myself that maybe they receive so many paper submissions that they need to advance the deadline to limit the number of papers coming in; so it seems like a really tough competition; and that if my paper got accepted, it would be totally awesome. So I worked pretty hard on writing; and I put aside some other things on my to-do-list to be able to meet this deadline. Then, as what people have been complaining about me for like all the time for being that "last-minute person" when it comes to paperwork, on the last day of submission, I submitted my abstract. I intentionally wanted to submit my full paper as well because the instruction is somewhat ambiguous about what should be submitted on that date. I have anticipated for the worse, though, by by writing full paper and be ready to submit it on that date although I'd actually prefer more time to edit it and make some other 'fine-tuning'. However, a friend convinced me that a mere abstract submission is okay, so.. I submitted the abstract without the full paper; and decided to do some further corrections to my full paper text.
After successfully uploaded my abstract, I then casually clicked all the click-able links on the website, because.. well. As a relatively inexperienced scientist/academician, I'm excited, and I'm curious to know more about the possible experience that I could get by attending this particular forum. However, what I found was rather shocking when I read this segment, because.. it's just weird. Some titles are just.. vague, and some others just don't fit to the topic in whatever way that I could imagine. Further browsing also made me realize that this 'organization' holds so many events at such 'packed' schedule, so it just popped up in my mind that.. it might be a scam.
So I googled. And yes, it turns out that it is quite likely a scam indeed.

I'm shocked. And when I'm shocked, I read. Until I feel less shocked. And.. I found some interesting things here and here.

Good news is, though, I might not be that far of being at lost. I haven't paid for the conference fee and I haven't submitted my full paper. And... I guess I'm just lucky because those people that I consulted to about this particular topic were just.. really helpful. They gave me a balanced view and broadened my knowledge even further, calmed down my 'paranoia', helped me to divert with other more interesting subjects.. and.. it's just nice, although.. 

I don't know. This is a new issue for me. I might not even understand things correctly as I only do a quick read on those webpages, but.. I'd say, personally, it's a great lesson for me. To be more careful. To be more cautious. To be more knowledgeable. To be more selective. To appreciate complexities. To learn to better resist  the 'temptation' of being able to bypass the what-should-be-complex procedure (because the complexities should've had reasons, I guess?). To remind myself that for the things that are worth working on, then working-on-it is exactly what I need to do because at times, patience does have its reward. 



........
........
.....
I don't know if I wanted to elaborate further. I guess I'd just let it slide for this time. I might revisit it later.



Tuesday, 1 November 2016

Ada kalanya

Ada kalanya pagi hari menjadi saat yang berat. Saat kerinduan yang tak tersampaikan menjadi mimpi yang mengesalkan saat mimpi itu terhenti. Saat matahari masih berada di balik dinding-dinding rumah dan pepohonan tapi saya sudah harus bersiap-siap mandi. Saat menengok papan catatan harian di dinding dan melihat daftar pekerjaan hari ini. Saat saya menyalakan musik, ikut bernyanyi, dan kemudian kesal mendengar suara saya sendiri yang saat pagi masih seperti suara kodok puber yang belum dikebiri.
Tapi ada kalanya pagi hari menjadi saat yang dinanti. Saat saya membuka mata dan ingat bahwa hari ini saya akan bertemu dedek-dedek gemez mahasiswa. Saat membuka aplikasi expense manager dan menemukan bahwa ternyata pengeluaran food and drink belum melebihi anggaran. Saat saya menyadari bahwa masih ada waktu ekstra untuk menyetrika dan berolahraga. Saat mengecek HP dan mendapatkan pesan ucapan selamat pagi yang tak terduga. Saat lagu Addicted to a Memory mulai berbunyi dan akhirnya saya bisa memutuskan untuk.. ya sudahlah, joget aja, nggak usah ikut nyanyi.

Lalu lagi-lagi siang dan sore hari memberi saya saat-saat berat. Saat wi-fi di sekolah tidak lancar karena satu dan lain hal (kata S*nta karena ada UFO). Saat mendadak ingat bahwa ada tugas yang seharusnya dikumpulkan hari itu dan ternyata belum saya kerjakan *ups*. Saat ada pesan yang tidak diharapkan yang mengatakan bahwa saya terlalu banyak online di tempat kerja *zzz kamu tahu apa?* Saat pergi makan siang, merogoh saku jas mencari dompet, tetapi ternyata tidak ada dompet di sana. Saat sedang bermaksud curhat atau menyampaikan aspirasi dan malah balik dicurhatin atau ditolak mentah-mentah dengan argumen non evidence-based penuh distorsi kognitif hingga berakhir dengan membatin, “Halah yombuh karepmu. Aku mbalik TRGan wae. Hih!” Saat ngabsen dan mesin absen sidik jari terus-menerus berkata, “coba lagi”kaya saya lagi ikut undian pemenang TTS majalah Bobo. Saat order g*jek untuk pulang sekolah, dan datangnya lamak. Saat mau mandi dan ternyata pembersih muka habis. Saat akan ganti baju tapi baju yang ingin dipakai masih di tumpukan baju kotor.
Tapi siang dan sore hari bisa juga menjadi momen-momen interaksi yang inspiratif. Saat ada presentasi ilmiah yang disajikan lengkap, dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dan menjadi bahan diskusi yang menarik. Saat ada dialog-dialog tentang sekolah, idealisme, dan rencana-rencana di masa depan yang diselingi dengan curcol nggak jelas sambil joget katarsis atau role play menirukan makhluk-makhluk yang sedang dibicarakan. Saat ternyata ada yang mau bayarin dulu saat saya lupa bawa dompet ke tempat makan. Saat mendapat e-mail yang menginformasikan bahwa saya diterima untuk sesuatu. Saat bisa ng-AC gratisan di tengah panasnya cuaca Denpasar karena saya berada di dalam lingkungan rumah sakit. Saat ada yang bertanya sesuatu dan ternyata saya bisa menjawab meskipun dengan agak sirkumstansia. Saat sweeth tooth saya lagi ngidam sesuatu dan ternyata ada oleh-oleh dari mana kaden yang manis-manis di atas meja ruang residen. Saat saya lupa apa saja yang perlu disiapkan untuk presentasi ilmiah, dan ada dedek-dedek gemez pencemas tapi siaga yang siap membantu. Saat mesin absen sidik jari tumben mau bekerja sama dan hanya satu atau dua kali mengatakan “coba lagi”, dan selanjutnya langsung “oke!” Saat bapak g*jek datang cepat beserta atributnya yang lengkap untuk mengantar saya pulang sekolah dengan selamat.

Lalu malam hari kembali memberi saya momen-momen berat. Saat saya menemukan di FB bahwa si kampret (tapi ganteng) nge-like2 doang tapi tak kunjung datang padahal I’m in a huge need of a good long hug. Saat menghitung pengeluaran dan ternyata anggaran harus di sana-sini disesuaikan. Saat saya duduk diam dan merasa kelelahan karena dari sekian puluh hal yang saya usahakan, belum satupun memberikan hasil seperti yang diharapkan; tapi saya masih tetap harus bertahan. Saat pesan yang saya tunggu tidak datang dan yang datang malah yang tidak saya nantikan. Saat back pain hanya terlegakan dengan berbaring, dan ujung-ujungnya sampai pagi saya ketiduran.
Tapi malam hari juga bisa menjadi momen penuh rasa syukur. Saat saya bisa meyakini bahwa beberapa hasil memang perlu waktu untuk menampakkan diri. Saat Bu Susi, Pak Pur, atau Dik Pungki pamer habis beli sesuatu dan tampak sangat menikmati apa yang dibeli. Saat Dendy tiba-tiba kesambet dan beralih topik dari cerita perjuangan akreditasi tanpa henti menjadi kuliah tentang broadway, vlog youtube popular, atau pembahasan konser artis 90an yang akan datang ke sini. Saat teman-teman saya para ibu muda perkasa berbagi foto dan cerita tentang bocah-bocah lucu yang sudah mulai pecicilan dan lari sana-sini. Saat saya bisa berbagi mimpi dan cerita tentang sekolah atau pekerjaan dengan mbak-mbak cerdas berkepribadian diselingi rumpi-rumpi tentang mas-mas lucuk atau mau ke mana setelah tahap ini. Saat saya bisa tidur dalam keadaan sudah mandi.

Jadi begitulah.
Semuanya sementara, dan itu tidak jelek juga. Semuanya akan cenderung berimbang, dan itu tidak apa-apa. Saya sudah punya semua hal penting yang saya perlukan. Setidaknya sampai titik ini, saya bisa bilang: saya bahagia; dan seringkali, itu sudah cukup. 

Saturday, 24 September 2016

Bahagia itu apa?

Pada suatu titik dalam perjalanan kehidupan, saya mulai menyadari bahwa saat di telepon, orang tua saya cenderung menanyakan hal yang sama, seperti ini:
Pak Pur: “Halo ndhuk, kamu baik-baik to?”
Bu Susi: “Gimana? Happy apa enggak?” (dan kadang-kadang “Ada kecengan nggak?” tapi jarang :P)

Belakangan, setelah saya membaca bahwa “should and must” merupakan salah satu bentuk distorsi kognitif, saya jadi sangat bersyukur karena saya dibesarkan oleh orang tua yang relatif tidak terdistorsi kognisinya. Orang tua saya –despite not articulating it clearly- sepertinya menyadari bahwa hidup ini yang penting happy, dan kalaupun kadang tidak happy, paling tidak kita bisa tetap baik-baik saja.

Mungkin kesannya jadi seperti tidak ambisius dan nggak niat hidup saat kita tidak mengatakan “harus” dan mentarget diri sendiri untuk mencapai ini itu, tapi… kalaupun kita mau hidup secara ambisius, the ultimate life-goal-nya sebenarnya apa? Berkali-kali saya menanyakan hal ini ke diri saya sendiri, dan jawabannya tetap sama: my life goal is to be happy. Sebagai orang yang memang cenderung kompetitif, tentu saja sense of accomplishment yang saya rasakan saat bisa mencapai sesuatu setelah mengharuskan diri saya untuk melakukan ini itu, merupakan salah satu sumber kebahagiaan terbesar saya. Meskipun begitu, pada satu titik saya merasa bahwa hal-hal yang saya lakukan untuk mendapatkan sense of accomplishment ini sepertinya jadi agak ‘kebablasan’ dan malah cenderung mekanistis. Saya jadi tidak menikmati proses dan terlalu terfokus pada hal-hal yang jadi ‘tujuan akhir’; dan saat akhirnya saya benar-benar sampai di tujuan akhir, saya nangis. Karena saya hanya ingat bahwa saya mencapai sesuatu, tapi tidak bisa benar-benar ingat apa saja yang sudah saya lakukan untuk mencapainya. Yang saya ingat untuk bisa disyukuri hanya pencapaiannya, tapi saya ‘hilang ingatan’ tentang banyak hal di perjalanan yang mungkin sebenarnya bisa disyukuri juga. Jadi memang saya mencapai sesuatu, tapi saya tetap kehilangan banyak hal… sehingga pencapaian saya jadi pencapaian yang (terasa) kosong. Saya tidak bahagia, sehingga tujuan hidup saya… tidak tercapai. Saya merasa gagal.

Meskipun begitu, karena toh saya masih hidup meski gagal, (saya anggap) itu berarti bahwa saya masih punya kesempatan untuk menjadi berhasil; untuk mencapai the ultimate life goal: to be happy. Karena sense of accomplishment tampaknya tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, otomatis saya jadi perlu mencari sumber kebahagiaan lain. Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa ada setidaknya dua hal yang ternyata bisa membuat saya bahagia: menerima dan memaafkan. Tentu saja proses menerima dan memaafkan itu juga bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah,  tapi dibandingkan dengan lari sana-sini untuk mencapai target ini itu, proses menerima dan memaafkan ternyata jauh “affordable” dan hemat energi, karena saya tinggal… diam dan mengawasi.

Dengan diam, saya lebih sedikit bereaksi secara impulsif terhadap orang lain atau apapun yang terjadi di sekitar saya, yang akhirnya memicu reaksi balik ke saya yang lebih sedikit, sehingga lebih sedikit pula yang perlu saya tanggapi. Awalnya hal ini memang menakutkan karena saat orang tidak bereaksi terhadap saya, akan muncul perasaan bahwa seolah saya ini dianggap tidak ada. Tapi kemudian saya ingat lagi, bahwa saat saya dianggap tidak ada, itu artinya saya lebih bebas mau ke mana saja karena tidak ada tanggungan karena toh saya tidak dibutuhkan, jadi situasi ini saya biarkan, dan ternyata… tidak apa-apa. Saat hidup saya ‘sekedar’ tidak apa-apa, ternyata saya justru lebih tenang. Saat saya tenang, saya bahagia, jadi.. tercapai dong the ultimate life goal to be happy-nya.. Hmmm nggak nyangka..

Tentu saja saya tidak percaya begitu saja bahwa ‘diam’ itu bisa berujung pada bahagia karena ya itu tadi: masa nggak ambisius dan nerima-nerima aja gitu bikin bahagia sih? Di mana accomplishment-nya? Maka saya pun mencoba melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya diam, yaitu melakukan observasi; tapi di observasi kali ini saya membawa sebagian ‘hasil latihan’ yang saya dapatkan dari upaya untuk diam: non-reactivity. Saya melakukan observasi tanpa target untuk dapat mengubah apapun; just observe. Ternyata, dari kegiatan observasi yang “observasi aja” ini, saya jadi ‘melihat lebih banyak’; so much that sometimes it just comes rushing into me. Dari banyak ‘data’ yang rushing in itu, dan dari energi yang berhasil saya hemat dari bersikap non-reaktif, saya jadi punya modal untuk membuat keputusan yang lebih ‘evidence-based’ dan holistik. Saat keputusan itu ‘evidence-based’ (i.e. masuk akal) dan holistik (i.e. sudah mempertimbangkan berbagai konteks sehingga relatif lebih bisa diterapkan pada banyak konteks sekaligus), keputusan ini jadi applicable dan… efisien. Saat saya merasa bisa ‘menciptakan’ sesuatu yang applicable, sense of accomplishment-nya tu dapet banget, dan saat sesuatu itu efisien, saya jadi semakin hemat energi. Saat saya bisa menghemat energi yang saya gunakan untuk membuat suatu pencapaian, saya jadi masih punya sisa energi untuk melakukan hal-hal yang saya suka. Saat melakukan hal-hal yang saya suka, saya… bahagia.

Saat saya bisa melakukan hal-hal yang saya suka, yang lain rasanya tidak terlalu penting lagi. Haha. Saya jadi tidak merasa perlu membuat hidup orang lain repot sebagai upaya balas dendam karena mereka membuat hidup saya repot. Dengan tidak membuat orang lain repot, saya justru mendapatkan sense of independence yang juga… bikin saya bahagia. Saya jadi lebih bisa menerima saat direpoti orang lain karena merasa bahwa mereka tidak sedang balas dendam karena saya sudah merepotkan mereka, tapi.. ya mereka minta tolong karena memang perlu; dan bahwa jika saya menolong, itu karena saya memang bisa. Saat orang bicara tidak jelas dan akhirnya terjadi salah paham, saya juga bisa menghadapinya dengan lebih tenang karena merasionalisasi, “yakalok namanya pikiran lagi ruwet, ya wajar aja kalau dalam berkomunikasi juga jadi ruwet.” Karena hal itu sesuatu yang wajar, jadi relatif tidak ada yang perlu ditanggapi dengan gitu banget. Akhirnya saya jadi nggak gitu-gitu banget, dan saat saya nggak gitu-gitu banget, saya tenang. Saat tenang, saya… bahagia.
Jadi ya.. begitulah.

Hidup tu yang penting baik-baik saja dan bahagia, dan ada banyak cara untuk mencapai baik-baik saja dan bahagia. Tidak harus ambisius, tidak harus membabat habis segala tetek bengek yang (seolah) menghalangi jalan kita menuju bahagia, karena.. happiness doesn’t always happen after some thousand miles of ‘walking’; happiness is when we’re enjoying every single step for knowing that it's our own conscious choice.



Udah, gitu aja. Ndak nanti saya dibilang pencitraan sehat mental padahal sebenarnya itu fiktif belaka XD

Sunday, 11 September 2016

Saya sudah umur segini: a PMS-induced-blabbering

Saya sudah umur segini. Sudah tidak lagi perlu dipuji hanya karena saya “berani tampil” atau “biar pernah.” I’ve done some 300+ “gigs.” Meski saya bukan profesional dan tidak dibayar untuk berbagai hal yang sudah saya tampilkan, saya cenderung menyikapi segala “gigs” itu dengan seprofesional mungkin. Artinya, saya punya standar yang harus saya capai. Artinya, saya melakukan segala upaya agar standar itu tercapai dan bisa dipertahankan. Artinya, kecil kemungkinan saya akan berbasa-basi busuk semacam, “aduh maaf ya cuma bisa segini aja soalnya nggak cukup waktu untuk persiapan, dan modal/SDMnya terbatas.” Paling banter mungkin saya hanya akan membahasnya seperti artikel-artikel di jurnal membahas strength and limitations penelitian tertentu. Basa-basi busuk seperti itu biasanya muncul jika ada makhluk delusional yang bicara besar di awal, janji ini itu, beride-ide ini itu, tapi tidak mempersiapkan sustainability plan apapun untuk menghadapi konteks saat ide-ide itu mulai dicobakan di dunia nyata. Kalau sejak awal yang namanya konteks (with the every aspects it relates to) dan sustainability plan itu sudah dibicarakan dan diantisipasi, ide-ide akan berjalan dengan realistis dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Tentu saja akan ada hal-hal yang memang tidak bisa dilakukan. Meskipun begitu, untuk tidak melakukan apa yang memang TIDAK saya janjikan, saya cukup yakin bahwa saya tidak perlu membuat lebaran datang lebih awal dengan acara maaf-maafan.

Saya juga sudah tidak lagi terlalu tertarik mencoba ini itu hanya karena “Ini kan baru” atau “Ini lagi trend lho.” Balik lagi, lihat konteks. Pada situasi kita yang sekarang, do we need that new thing? Is that trend applicable to our context? Kalau itu membuat saya jadi terkesan konservatif, ya tidak masalah. Namanya kesan, apa saja bisa muncul, dan bukan berarti segala sesuatu yang muncul itu adalah sesuatu yang harus disikapi. Salah satu guru yang saya kagumi pernah berkata bahwa yang membedakan pendidikan tingkat sarjana dengan tingkat pendidikan di bawahnya adalah bahwa sarjana itu mendekati segala hal dengan sikap skeptis. Bukan sinis, tapi skeptis. Mungkin terjemahan terdekatnya dalam Bahasa Inggris adalah “Proceed with caution.” Artinya, oke kita jalan, kita coba, tapi dalam perjalanan uji coba itu kita akan hati-hati. Kadang yang bagi saya mengesalkan sebenarnya bukan karena hal itu baru atau bertentangan dengan kebiasaan saya, tapi karena… kadang orang yang bilang “Ini kan baru” atau “Ini lagi trend lho” itu tadi tidak punya alasan lain untuk melaksanakan sesuatu selain dua kalimat basi itu. Begitu saya tanya tentang “analisis awal” untuk risk and benefit, jawabnya langsung “Ya kan ini baru, jadi kita belum tahu bagaimana risk and benefit-nya” atau “Saya kemarin sudah melakukan ini SEKALI dan langsung berhasil.” Kemudian saya googling. Kemudian ternyata ada baaaaanyaaaaaaakk report tentang acara sejenis yang sudah diujicobakan di berbagai konteks dengan berbagai hasil. Terus saya balik tanya lagi, “Ini ada data kaya gini, kendala potensialnya ini ini ini. Sejauh mana itu sudah dipikirkan?” dan jawabannya adalah, “Belum sih..” terus habis gitu disambung dengan, “Ya udah deh nggak usah, kok kayanya susah.” Hiiiiihhh mbok kene takbalang sandal.. *mengelus dada *trepes *hih malah tambah bete

*breathe
Jadi prinsipnya gini.
Sejauh mana orang itu siap untuk mempertimbangkan segala konsekuensi dari idenya dan sejauh mana orang itu mau berupaya untuk mencari ‘data’ yang objektif (bukan subjektif) untuk mendukung idenya, sejauh itulah dia akan berkomitmen untuk melaksanakan apa yang (katanya) dia impikan/ide-kan. Kalau saya harus terlibat dalam sesuatu ‘proyek’ yang penggagasnya nggak berkomitmen dan manfaat kegiatannya nggak jelas, hla nggo ngopo? Mbok mending aku neng ngomah nggosok jedhing disambi nyetel TRG. Luwih apik nggo kesehatan mental. Saya mungkin akan bisa menerima sesuatu yang baru tanpa mempertanyakan apapun kalau saya merasa saya sedang cukup selo dan semacam.. yaaa daripada enggak, ya nggak pa-pa, coba deh. Tapi yo mit, saiki aku ra lagek selo. Tur nek urusane karo wong akeh ki nek meh mung “yaaa daripada enggak, coba aja deh,” kok yo temapuk.. Urusan uwong kok dijajal-jajal. Seperti tagline minyak embuh kae, “buat anak kok coba-coba.” Hih. Nek meh coba-coba ki ngisi TTS neng majalah Bobo wae, ra sah ngajak-ajak uwong-uwong sing ra selo.


Wis ah. Nggarap PR dhisik. Ibadah PMS-induced-blabbering dinyatakan selesai.